Cerita Lengkap Pengalaman Menggunakan Alpha Universe
Setiap detail
memiliki sejarah

Kemegahan Angkor Wat diungguli oleh tingkat detail yang terukir di dindingnya. Di dalam struktur monumental tersebut adalah ukiran relief dan patung dengan jumlah tak terhitung yang menceritakan kerajaan di masa damai, perang, dan di puncak kejayaannya. Fotografer ternama Anthony Lau menunjukkan bagaimana ketiga rangkaian lensa Sony G Master menceritakan kisah Angkor Wat dengan teknologi yang canggih.

Anthony Lau
Anthony Lau

Anthony Lau memenangkan Grand Award pada kontes “National Geographic Travel Photographer of the Year” tahun 2016. Sejak saat itu, ia telah berkolaborasi dengan National Geographic dan merek lain untuk proyek di wilayah Tiongkok. Anthony beralih ke Sony pada tahun 2013. Sejak saat itu, ia telah berkelana membawa sistem Alpha mirrorless dan rangkaian lensa G Master dari tundra es di Churchill Kanada hingga padang rumput Maasai Mara di Kenya. Dalam petualangannya ke Angkor Wat, Anthony membagikan pandangannya tentang situs Warisan Dunia UNESCO di Kamboja tersebut dan bagaimana rangkaian lensa G Master membantunya menangkap keindahan situs tersebut secara mendetail.

Angkor Wat dari kejauhan dengan latar belakang temaram

Alpha 7R III | FE 70-200mm F2.8 GM OSS | 1 sec | f/9 | ISO 50

Angkor Wat 

Setiap detail memiliki sejarah

Selama abad ke-12, Raja Suryawarman II membangun Angkor Wat yang spektakuler sebagai persembahan kepada Dewa Wisnu. Juga dikenal sebagai Kota Kuil, dahulu tempat ini merupakan ibu kota Kekaisaran Khmer yang besar dan merupakan mahakarya arsitektur dengan proporsi dan detail tinggi, puncak dari gaya Khmer klasik. Kemegahan kompleks kerajaan dan kuil ini tetap belum menandingi detail yang ada di dalamnya. Di antara struktur besar terpahat ukiran relief dan patung dengan jumlah tak terhitung yang menceritakan kisah kerajaan di masa damai, perang, dan puncak kejayaannya. Semua itu langsung menghadirkan imajinasi tentang doa-doa para biarawan dan langkah cepat pelayan kerajaan.

Lensa Sony G Master menangkap sudut terbaik dengan teknologi canggih yang tepat untuk menangkap monumen agung tersebut.

Menangkap warna asli Angkor Wat

Alpha 7R III | FE 24-70mm F2.8 GM | 1/200 sec | f/16 | ISO 320

Menangkap warna asli Angkor Wat

Angkor Wat adalah kuil paling mengagumkan di Angkor, yang dibangun untuk meniru Gunung Meru, pusat dari kosmologi Hindu. Dari kejauhan, kelima prasat atau menara suaka di kuil mewakili puncak pegunungan suci tersebut, sedangkan paritnya meniru lautan yang mengelilingi Gunung Meru. Namun, yang menarik bagi pengunjung adalah relief sepanjang 600 meter yang menutupi galeri. Relief-relief ini menceritakan kisah penaklukan Kurusetra, penobatan Suryawarman II dan berbagai legenda dari mitologi Hindu. Matahari telah menyinari galeri Angkor Wat yang magis dengan segala corak warna yang ada selama ribuan tahun, tetapi hanya lensa G Master yang mampu menampilkan warna sejatinya serta menginspirasikan kekaguman.

Apa pertimbangan Anda mengenai komposisi dan pencahayaan ketika mengambil gambar tersebut? Dan bagaimana lensa G Master membantu mencapai visi Anda?

Memaksimalkan cahaya indah pada waktu berbeda sangatlah penting. Fajar melingkupi seluruh kuil dengan warna hangat. Seiring matahari pagi meninggi di kelima prasat, fotografer mendapat kesempatan baik mengambil gambar dengan pencahayaan dramatis. Malam hari juga memberikan kesempatan mengambil gambar orang-orang berjalan melalui galeri emas.

Lensa G Master dikenal akan resolusi, ketajaman sudut, bokeh lembut, distorsi minimal, dan reproduksi warna yang akurat. Lensa G Master sangatlah mumpuni di semua area tersebut dengan lensa XA (asferis ekstrem), yang menghilangkan ketidakselarasan sinar, untuk kualitas gambar optimal bahkan pada rana maksimal. Dipasangkan dengan Sony Nano AR Coating asli, transmisi cahayanya sangat akurat, menghasilkan peningkatan kecerahan dan kontras yang signifikan.

Bagaimana keindahan galeri dan cahaya emas Angkor Wat menginspirasi Anda sebagai fotografer?

Angkor Wat merupakan monumen keagamaan terbesar di dunia dan pengetahuan saya tentang mitologi Hindu memungkinkan saya fokus pada usaha kreatif di tempat penting di dalam Angkor Wat.

Menangkap gambar ukiran tersebut sungguh pengalaman yang memikat. Seiring matahari terbenam, warna keemasan yang dipantulkan batu pasir menjadi begitu berkilau. Perpaduan antara bayangan di pilar dan pengunjung yang berlalu lalang menciptakan proyeksi yang terus berubah di dinding. Ini mengingatkan saya bahwa fotografi adalah tentang cahaya dan interaksinya dengan subjek, dan misi seorang fotografer adalah mengantisipasi dan menangkap momen yang paling bermakna.

Bagaimana kita dapat menangkap galeri berwarna emas secara utuh, dan masih memiliki detail yang cukup pada bayangan di pilar?

Waktu adalah elemen penting; datanglah ke lokasi lebih awal dan bersiap menangkap cahaya senja ketika ia menyinari galeri. Saya juga akan mengurangi nilai pencahayaan sebesar -0,3 hingga -0,7 untuk melindungi sorotan. Berkat rentang dinamis sistem kamera mirrorless Sony Alpha 7 yang baik, area bayangan memiliki detail yang mudah diekstrak di pascapemrosesan. Ada baiknya juga untuk memeriksa histogram untuk mendapatkan tinjauan pencahayaan akurat dan menerapkan penyesuaian yang diperlukan.

Ukiran di pintu dan dinding Banteay Srei

Alpha 7R III | FE 70-200mm F2.8 GM OSS | 1/8 sec | f/13 | ISO 50

Setiap detail tertangkap sempurna

Di hampir setiap permukaan, setiap dinding, ada kisah yang diceritakan di Banteay Srei – Istana para Wanita. Didedikasikan kepada Siwa, kuil batu pasir merah jambu tersebut memiliki ukiran paling rumit dari semua kuil di Angkor, yang berisi kisah legenda dari Mahabarata dan Ramayana. Batu merah jambu yang dipilih sang arsitek memastikan setiap nuansa di setiap fasad tak lekang oleh waktu. Inilah mengapa kuil ini dikenal sebagai 'Permata Seni Khmer.' Kuil ini sangatlah penting karena berisikan berbagai kisah mitologi di pedimen dan ambang pintunya. Skala miniatur dari Banteay Srei membuatnya unik dibandingkan kuil lain di Angkor. Tempat ini merupakan tempat terbaik untuk menguji ketajaman lensa Sony G Master. Dengan Sony 70-200 GM, semua detail dari keajaiban arsitektur ini dapat tertangkap sepenuhnya.

Ketika mengambil gambar detail rumit dari bangunan kuil utama, apa pertimbangan Anda terkait komposisi dan pencahayaan? Bagaimana lensa G Master membantu mencapai visi Anda?

Ukiran paling rumit dan paling terjaga di kuil ada di bagian dalam, yang berisi dua perpustakaan dan satu suaka, yang juga dilarang untuk dimasuki. Berkat jangkauan panjang lensa Sony 70-200 G Master, saya dapat fokus pada ornamen, bingkai dekoratif, dan sudut-sudut menara, dengan menjaga elemen utama tetap tertangkap gambar. Performa bebas distorsi dari lensa Sony 70-200 G Master menjaga garis vertikal tetap lurus. Saya juga mengambil dari beberapa sudut dan lokasi berbeda, untuk menangkap cahaya, bayangan, dan warna yang terus berubah.

Bagaimana detail arsitektur Banteay Srei yang kaya menginspirasi Anda sebagai fotografer?

Menurut saya, Banteay Srei adalah monumen yang paling terjaga keasliannya di Angkor. Ornamennya yang mengesankan menutupi sebagian besar kuil dan menunjukkan peradaban dan keahlian terbaik Khmer. Di ambang pintu terdapat deskripsi Ramayana secara mendetail, dengan favorit saya adalah dua Kera bersaudara Subali dan Sugriwa yang memperebutkan takhta. Penggambarannya sangat dramatis dan mendetail, sehingga saya bisa merasakan intensitas pertempuran mereka. Ditimpa cahaya matahari malam, warnanya terus berubah seiring pergerakan matahari menurun ke cakrawala hutan, dan saya tak bisa berhenti menangkap kemegahan tersebut dari segala sudut.

Wajah kesempurnaan

Adakah tips bagi fotografer pemula tentang cara mendapatkan tingkat detail terbaik dari pemandangan ini?

Untuk menangkap pengaruh dramatis antara cahaya dan bayangan, saya memilih mengatur gambar dari samping, dan mengambil gambar dengan f13 untuk kedalaman bidang yang lebar. Tripod jelas dibutuhkan untuk mengurangi buram akibat gerakan dan waktu pencahayaan yang lebih lama. Ketika menyiapkan tripod, jangan letakkan di jalur kayu agar tidak ada guncangan kamera akibat langkah kaki. Saran saya adalah menonaktifkan IBIS (In Built Image Stabilisation), dan gunakan aplikasi seluler Sony untuk mengambil gambar agar tidak ada guncangan kamera.

Ketika zoom in ke foto ukiran, saya terkesan dengan betapa alaminya transisi warna di bawah matahari petang – merah yang hangat menyatu secara halus dengan area tertutup lumut yang lebih gelap. Bahkan di bayangan, detail rumit dari ukiran masih dapat terlihat, menampilkan kemegahan para dewa dan makhluk mitos yang digambarkan di dalamnya.

Bayon, kuil pusat dari Angkor Thom, merupakan bangunan keagamaan paling misterius di dunia. Ia menunjukkan fase pemujaan mulai dari Panteon para Dewa, Hindu, dan Buddha. Ketika Anthony Lau pertama kali memandang Bayon, ia langsung terkesima dengan detail yang memenuhinya. Dibangun oleh Raja Jayawarman VII, bangunan ini tampak berkelas dengan detail rumit dan sangat berbeda dari gaya klasik Angkor Wat. Fitur paling menakjubkan dari Kuil Bayon adalah 200 patung wajah batu yang ada di sana. Juga dikenal sebagai Mona Lisa Asia Tenggara, wajah-wajah ini menggambarkan tingkat kesempurnaan artistik yang sangat menarik bagi fotografer. Patung tersebut menyatukan karakter wajah Raja Jayawarman VII dengan ketenangan Awalokiteswara, bodhisatwa perwujudan sifat welas asih yang tampak megah dikelilingi hutan belantara. Ini adalah kesempatan bagus untuk menguji resolusi lensa Sony FE24-70 G Master.

Potret close up tiga wajah yang terukir di batu

Alpha 7R III | FE 70-200mm F2.8 GM OSS | 1/500 sec | f/16 | ISO 1000

Dikenal sebagai Mona Lisa Asia Tenggara, bagaimana wajah besar di The Bayon menginspirasi Anda?

Ada yang berkata bahwa tidak ada yang dapat sembunyi dari tatapan mereka. Di setiap langkah, di setiap sudut, saya dapat merasakan tatapan welas asih dari wajah-wajah megah tersebut. Mengambil gambar di sini merupakan pengalaman yang sangat spiritual karena hubungan keluarga saya dengan agama Buddha. Saya ingin mencerminkan pengalaman tersebut dengan mengisi bingkai dengan wajah tersebut, tanpa terganggu elemen lain.

Ada saran tentang pemilihan titik atau waktu terbaik yang mampu menggambarkan kemegahan ukiran raksasa tersebut?

Titik terbaik ada di lantai terbuka bagian atas, di mana terdapat ukiran yang paling terjaga keasliannya. Namun, jalurnya sempit dan selalu ramai pengunjung selama jam puncak, jadi, saya mengunjungi Bayon sebelum fajar. Di saat itu, saya bebas mengatur pengambilan gambar, bereksperimen dengan panjang fokus dan sudut berbeda, serta menangkap cahaya matahari pertama yang menyentuh ukiran wajah tersebut.

Untuk potret "tatap muka" dari ukiran raksasa tersebut, gunakan tangga sempit di sekitar lantai untuk memanfaatkan ketinggiannya atau gunakan monopod untuk mengangkat kamera Anda. Karena ini kuil suci, penting untuk menghormati dengan tidak menyentuh patung atau memanjat dinding.

Karena wajah batunya terpisah, mengambil gambar dengan F11 atau lebih diperlukan agar kedalaman tampilannya mencukupi. Untuk gambar tajam, pilih kecepatan rana yang setidaknya setara dengan 1/panjang fokus yang digunakan (misal, setidaknya 1/70 detik ketika menangkap dengan 70 mm) untuk meminimalkan guncangan kamera ketika merekam tanpa tripod.

Menghidupkan kembali undak-undakan kerajaan kuno

Apa pertimbangan Anda ketika mengambil gambar ukiran wajah raksasa tersebut? Dan bagaimana lensa G Master membantu mencapai visi Anda?

Lensa Sony 24-70 G Master sangat sempurna di sini karena saya dapat mendekat dan membuat perspektif “potret penuh”. Setiap wajah terlihat unik dengan nada warna berbeda, dan pencahayaan serta warna nyata lensa G Master benar-benar menampilkan sisi terbaik dari subjek. Lensa G Master mencapai tingkat kinerja optik yang luar biasa dan seragam melalui rentang zoom dengan SSM (Super Sonic wave Motor) direct drive dan akurasi posisi henti tinggi, auto fokus kecepatan tinggi, serta pergeseran gambar zoom minimal. Saya menjadi percaya diri untuk bereksperimen dengan panjang fokus yang berbeda, dan mempermudah mengambil gambar tanpa tripod.

Close up patung dengan latar belakang bokeh di Undak-Undakan Raja Lepra

Alpha 7R III | FE 16-35mm F2.8 GM | 1/2000 sec | f/2.8 | ISO 100

Aspek undak-undakan Kerajaan manakah yang menarik bagi Anda sebagai fotografer?

Saya menghabiskan banyak waktu di Undak-Undakan Raja Kusta. Tempat ini sungguh berbeda bagi saya karena banyak alasan.

Undak-Undakan berisi ukiran detail tentang para dewa dan hewan mitologi, semuanya mudah dijangkau sehingga sempurna untuk gambar close-up. Untungnya detail ukiran masih dalam kondisi baik berkat konstruksi dinding ganda, dengan dinding luar melindungi dinding dalam. Terlebih lagi, kualitas pencahayaannya sangat menakjubkan; cahaya yang dipantulkan dari dinding berwarna merah memberikan pendar hangat pada patung-patung yang ada.

Terletak di sebelah Istana Kerajaan Kuno, Raja Jayawarman VII membangun undak-undakan kerajaan yang menjadi bagian penting dari kehidupan kerajaan Khmer. Undak-undakan ini digunakan untuk menjamu tamu asing dan upacara publik. Undak-undakan Gajah dan Raja Kusta dibangun dengan gaya yang serupa dengan Bayon. Di antara ukiran gajah, ular Naga berkepala banyak dan kesatria, patung sang Raja Kusta duduk di atas undakan. Menurut utusan Dinasti Yuan, Zhou Daguan, sang Raja mendengar derita rakyatnya dari undakan indah tersebut. Di atas tanah suci tersebut dengan lensa Sony 16-35 G Master, Anthony Lau hampir dapat benar-benar membayangkan bagaimana undak-undakan tersebut di masa lampau.

Apa pertimbangan Anda ketika mengambil gambar close up ukiran di undak-undakan tersebut? Dan bagaimana lensa G Master membantu mencapai visi Anda?

Mencari "wajah" terbaik dengan cukup detail untuk gambar close-up adalah pertimbangan pertama saya. Kemudian saya mulai bereksperimen dengan berbagai panjang fokus, sudut, dan jarak antara lensa dan subjek. Sasarannya adalah memaksimalkan pengaruh cahaya alami, sehingga ciri khas subjek dapat semakin mendetail dengan bokeh cantik dari latar belakang.

Sony 16-35 G Master sangat sempurna di sini karena saya dapat menyusun gambar saya di sudut sempit dan lorong kecil di undak-undakan. Jarak fokus minimum 0,28 m membuat saya dekat dengan wajah kuno tersebut. Apertur 11 bilah bulat yang dipasangkan dengan kualitas optik lensa membantu saya mengisolasi subjek, dengan mengubah latar belakang menjadi bokeh yang lembut.

Ada saran bagi fotografer yang mengambil gambar undak-undakan?

Jika waktu Anda di Angkor terbatas, Dinding Dalam Undak-Undakan Raja Lepra sangat penting untuk dikunjungi. Datanglah di siang hari untuk pencahayaan terbaik, karena cahaya matahari di atas kepala masuk ke dalam koridor yang sempit. Di waktu itu, mataharinya sangat terik, jadi bersiaplah mengurangi pencahayaan untuk melindungi sorotan.

Prolog

Angkor Wat merupakan situs warisan dunia yang sungguh memukau. Fotografer datang ke Angkor Wat karena kemegahannya, sejarahnya, dan kenangan di dalamnya. Sudut gambar yang dapat diambil tidak ada batasnya. Kisah yang ditangkap dari setiap bingkai dapat berbeda. Satu orang dapat menangkap kemegahannya dengan gambar sudut lebar. Ukiran relief dapat memberikan tampilan yang dekat dan personal. Atau ambil gambar wajah raksasa yang menggantung di menara. Tetapi untuk benar-benar menangkap keagungan kuil dan istana Angkor, para fotografer memilih lensa Sony G Master yang dikenal akan ketajaman, warna nyata, dan hasil di luar fokus yang mengesankan. Fotografer kini dapat menampilkan kekayaan Angkor Wat yang sesuai dengan posisinya dalam sejarah dunia.

Perlengkapan Anthony
ILCE-7RM3
Alpha 7R III

ILCE-7RM3

SEL1635GM
FE 16-35mm F2.8 GM

SEL1635GM

SEL70200GM
FE 24-70mm F2.8 GM

SEL2470GM

SEL70200GM
FE 70-200mm F2.8 GM OSS

SEL70200GM