Awa Odori

Festival tari terbesar di Jepang, Awa Odori, adalah pergelaran menakjubkan lengkap dengan pemandangan yang memesona, pertunjukan seni yang memukau, dan berjuta keseruan. Temukan keindahannya bersama fotografer National Geographic, David Guttenfelder.

Di Balik Layar:
Festival Awa Odori

Ramaikan Perayaannya

Bon odori (tarian) yang sudah berumur berabad-abad ini adalah perpaduan menarik antara suara, gerakan, dan tradisi. Meski tarian ini ditampilkan di seluruh penjuru Jepang di pertengahan bulan Agustus pada pekan Obon yang merupakan peringatan memperingati kembalinya leluhur yang telah meninggal ke Bumi dan momen para keluarga merayakannya bersama, tetapi acara tahunan Awa Odori di Tokushima adalah pergelaran tari Obon yang paling terkenal, tertua, dan terbesar. Perayaan yang namanya diambil dari nama kuno Prefektur Tokushima, Awa, ini digelar selama empat hari di pulau Shikoku ini dan disaksikan lebih dari satu juta pasang mata dan diikuti oleh ribuan penari yang tampil dalam kelompok, atau ren. Agar Anda bisa menikmati pemandangan dan keseruan pergelaran malam hari ini, beli tiket, lalu duduk manis di enbujo (tribune penonton) yang tinggi itu.

RAMAIKAN PERAYAANNYA

Alpha 9 | Vario-Tessar T* FE 24-70mm F4 ZA OSS | 1/640 sec | f/4.5 | ISO 800

KAGUMI TOPI-TOPI YANG CANTIK

Alpha 7R IV | FE 24mm F1.4 GM | 1/1250 sec | f/1.4 | ISO 500

Kagumi Topi-Topi yang Cantik

Di antara para penampil Awa Odori, yang paling elegan adalah rombongan ona adori (tarian wanita). Para penari ini mengenakan amigasa berbentuk kipas (topi anyam) yang dibuat dari jerami tebal, alang-alang, kulit kayu pohon cemara Jepang, dan bambu yang sudah dikelupas kulitnya. Topi tradisional ini tak ayal adalah aksesori serbaguna. Mengapa? Karena pinggiran amigasa berbentuk bundar dan lebar ini mudah dilipat dan dapat dimiringkan untuk menahan sinar matahari atau menutupi wajah pemakainya. Dulu, amigasa adalah topi yang banyak dipakai para ninja. Bagian dalam pinggiran topi ini yang lebar itu mereka pakai untuk menyembunyikan senjata dan dokumen serta menyamarkan identitas. Nah, ketika senja tiba, susuri pusat kota dengan berjalan kaki menuju tempat festival bersama para penampil yang mengenakan amigasa itu.

TERPESONALAH DENGAN TARIANNYA

Alpha 7R IV | FE 70-200mm F2.8 GM OSS | 1/8 sec | f/5.6 | ISO 160

Terpesonalah Dengan Tariannya

Prosesi Awa Odori ini diiringi dengan irama yang ceria dan menggunakan ketukan duple (dua ketukan per birama). Temponya yang membakar semangat, membuat gerakan tarian otoko odori (tarian pria) jadi makin liar dan energik serta ona adori atau tarian wanita jadi makin anggun dan kompak. Di Awa Odori, setiap ren punya gerakan melangkah khasnya masing-masing. Misalnya, para penari pria harus berjalan setengah berjongkok, mengangkat lengan di atas bahu, dan menggerakkan kaki ke depan dan ke belakang. Satu atau beberapa penari di setiap Ren membawa takahari (lampion) yang tinggi. Ketika menarikan tarian pria, mereka kadang-kadang mengayunkan lampion sesuka hati mereka dan menciptakan lingkaran cahaya yang memukau.

NIKMATI KESERUANNYA

Alpha 9 | FE 70-200mm F2.8 GM OSS | 1/200 sec | f/4 | ISO 800

Nikmati Keseruannya

Pawai Awa Odori tidak hanya diramaikan oleh ren yang beranggotakan kaum pria, wanita, atau bahkan campuran pria dan wanita, tetapi juga kelompok anak dan remaja putri yang meniru tarian khas para pria dengan penuh semangat. Dengan mengenakan rompi pendek khas Jepang yang disebut happi dan celana pendek seperti yang dikenakan oleh para penari pria, postur menari mereka sedikit membungkuk sebatas pinggang dan berjongkok rendah seraya melambaikan uchiwa (kipas) berwarna cerah di atas kepala mereka. Para penari muda tersebut mengenakan tabi atau kaus kaki split toe berbahan katun dan bersol karet, tanpa sandal atau sepatu. Alas kaki praktis ini menjaga keseimbangan tubuh para penari sehingga mereka bisa menari dengan bebasnya sepanjang rute pawai.

MENARI MENGIKUTI IRINGAN IRAMA

Alpha 9 | FE 70-200mm F2.8 GM OSS | 1/250 sec | f/2.8 | ISO 500

Menari Mengikuti Iringan Irama

Pergelaran Awa Odori juga tidak lengkap jika ren yang menari tidak diiringi oleh alunan narimono atau para musisi yang secara langsung memainkan alat musik tradisional, seperti shamisen (kecapi tiga senar), yokobue (seruling bambu), kane (genta) dan taiko (tambur). Kelompok penari pria sering kali menari diiringi dentuman o-daiko (tambur raksasa). Para penampil ini membakar semangat para pengunjung dengan dentuman tambur yang membahana sekaligus memamerkan gerakan lengan dan tubuh yang gagah. Penonton diajak untuk ikut menyanyikan lagu tradisional Awa Odori, yaitu Awa Yoshikono. Lirik lagu tersebut jika diterjemahkan secara harafiah artinya adalah "Orang bodoh yang menari dan orang bodoh yang menonton; jika keduanya bodoh, kenapa tidak ikut menari?.”

SAKSIKAN SENI MENGHENTAKKAN KAKI

Alpha 9 | FE 70-200mm F4 G OSS | 1/125 sec | f/5.6 | ISO 2000

Saksikan Seni Menghentakkan Kaki

Nikmati merdunya bunyi lantai panggung yang beradu dengan sandal kayu atau geta berwarna hitam dengan tali bergaris-garis berwarna merah putih yang dipakai kelompok ona adori. Geta, yang dikenakan bersama kaus kaki putih setinggi mata kaki, tampak seperti meja kecil dengan yang memiliki dua kaki penyangga di tengah. Berkat desain tersebut, para penari wanita bisa berjingkat dan menampilkan tarian ona adori dengan anggunnya. Beberapa geta dipasangi tali sandal berbahan karet di bagian jari kaki dan di bagian kedua telapak kaki atau penyangga agar mereka tidak terpeleset dan untuk melindungi lantai panggung kayu supaya tidak rusak dan lecet.

MENGHADIRI PESTA PEMBUKA FESTIVAL YANG LUAR BIASA

Alpha 9 | FE 135mm F1.8 GM | 1/250 sec | f/1.8 | ISO 250

Menghadiri Pesta Pembuka Festival yang Luar Biasa

Anggota ren, seperti Naomi Kagami (di foto), harus berlatih sepanjang tahun demi mempersiapkan diri untuk tampil di Awa Odori. Kelompok tari dari seluruh Jepang dan penjuru dunia juga tak ketinggalan untuk ambil bagian dalam festival Tokushima. Kalau ingin menyaksikan pertunjukan panggung Zenyasai ("malam sebelum festival") populer yang menampilkan sekitar 30 ren kenamaan di daerah tersebut, datanglah sehari sebelum acara resminya dimulai. Acara yang digelar selama dua jam itu merupakan salah satu penampilan panggung terbaik di pagelaran Awa Odori. Meski Zenyasai dan prosesi malam tidak gratis dan hanya boleh diikuti untuk rombongan penari yang terdaftar, pengunjung yang ingin meramaikan Awa Odori juga dapat bergabung dan belajar menari dengan kelompok Niwaka atau Ren dadakan, tanpa perlu mendaftar dan tidak dipungut biaya.

KAGUMI BUSANA ANGGUNNYA

Alpha 9 | FE 135mm F1.8 GM | 1/640 sec | f/1.8 | ISO 500

Kagumi Busana Anggunnya

Karena setiap ren atau rombongan penari Awa Odori mengenakan pakaian, aksesori, dan gaya rambut yang sama, penampilan mereka jadi sangat unik. Nama ren biasanya dicetak beberapa kali pada pakaian yang mereka kenakan. Saksikan para ona adori atau para penari wanita yang mengenakan yukata (kimono musim panas) pendek dan pernak-pernik tradisional lainnya melintas di depan Anda. Pernak-pernik lain yang dikenakan di bagian belakang tubuh penari adalah obi (sabuk lebar) yang diikat di pinggang dengan simpul yang rumit; uchiwa (kipas), biasanya nama ren dicetak atau ditulis di situ; dan inrou (peti kecil) berbahan kayu yang dipasang ke obijime (tali dekoratif) dan diikat mengelilingi obi.

MENIKMATI HAL-HAL SEDERHANA

Alpha 9 | FE 135mm F1.8 GM | 1/320 sec | f/1.8 | ISO 2590

Menikmati Hal-hal Sederhana

Agar amigasa (topi jerami) yang dikenakan para ona adori bisa berbentuk kipas yang unik itu, pertama rambut disanggul sedemikian rupa. Kemudian, mereka meletakkan dasaran berbentuk tenda (biasanya terbuat dari Styrofoam berbalut lembaran berbahan karet) yang disebut kasa makura (atau terjemahan harafiahnya, "bantal payung") di atas sanggul. Topi jerami tersebut kemudian dilipat hingga berbentuk kipas dan diletakkan di atas kasa makura, yang akan menahan amigasa agar tidak bergeser. Hiasan rambut, seperti bintang laut yang ada di foto, berfungsi untuk menyamarkan kasa makura dan mengalihkan fokus para penonton dari bagian dalam topi itu.

SAMBUT SEMANGAT SUKACITA

Alpha 7R IV | FE 24mm F1.4 GM | 1/320 sec | f/2.5 | ISO 1250

Sambut Semangat Sukacita

Pemandangan dan suara Awa Odori membakar semangat para pengunjung di pusat kota Tokushima. Pemerintah menutup akses beberapa jalan selama acara berlangsung agar para penonton dan penampil bisa menjelajahi area pergelaran. Berjalan kaki juga merupakan cara terbaik untuk melihat para penari dari dekat; menyaksikan para penari amatir dan anak-anak setempat berlatih dan menari di taman kota; serta mencicipi makanan lokal di yatai (warung makan kaki lima) yang menjamur di sepanjang jalanan, khususnya di sekitar Kuil Hikawa. Selain pedagang makanan kaki lima, banyak pedagang yang mendirikan stan kecil untuk menjual makanan dan minuman di luar toko mereka selama Awa Odori.

Di Balik Layar:
Festival Awa Odori

Peralatan yang Dipakai David untuk Awa Odori

ILCE-7RM4

Alpha 7R IV

ILCE-7RM4

ILCE-9

Alpha 9 

ILCE-9

SEL70200GM

FE 70-200mm F2.8 GM OSS

SEL70200GM

SEL24F14GM

FE 24mm F1.4 GM

SEL24F14GM

SEL135F18GM

FE 135mm F1.8 GM

SEL135F18GM

SEL70200G

FE 70-200mm F4 G OSS

SEL70200G

 

SEL2470Z

VARIO-TESSAR T* FE 24-70mm F4 ZA OSS

SEL2470Z