Cerita Lengkap Pengalaman Menggunakan Alpha Universe
10 Tips untuk Fotografi Udara yang Menakjubkan

Oleh Dylan Giannakopoulos

Ketika berkeliling Amerika Utara bersama istri saya pada awal tahun ini, saya mempersiapkan fotografi udara untuk mengabadikan kawasan Manhattan, New York selama golden hour dan blue hour menggunakan helikopter sewaan.

Untuk sebagian besar genre fotografi, perencanaan dan riset sangat penting dilakukan demi pengambilan gambar yang sukses.

Fotografi udara dengan pencahayaan minim memiliki beberapa tantangan menarik yang memerlukan perencanaan agar kita bisa mengatasinya. Setelah riset selama berbulan-bulan, saya membuat daftar jepretan dan memutuskan untuk menggunakan dua kamera Alpha 7R II dengan Lensa FE 24-70 mm F2.8 GM Sony dan Lensa Distagon T* FE 35 mm F1.4 ZA Sony. Namun, seberapa matang pun rencana kita, masalah yang tak pernah kita pertimbangkan sebelumnya bisa saja muncul.

Inilah beberapa hal yang telah saya pelajari.

pcqR6Qc

Alpha 7R II | FE 24-70 mm F2.8 GM | 45 mm | 1/250 dtk | F2.8 | ISO 3200

1. Memotret Sudut yang Terbuka Lebar

Anda mungkin terkejut jika mengetahui bahwa pada sepanjang penerbangan, saya memotret dengan sudut yang terbuka lebar menggunakan FE 24-70 mm F2.8 GM dan Distagon T*FE 35 mm F1.4 ZA. Ketika memotret pemandangan, fotografer biasanya mengurangi apertur lensa untuk memaksimalkan kedalaman bidang. Fotografer biasanya menggunakan lensa cepat bersudut lebar untuk kedalaman bidang yang dangkal atau astrofotografi. Seperti dalam astrofotografi, ketika memotret dari helikopter, jarak Anda dari titik fokus sangat jauh sehingga dengan F1.4 pun sebagian besar pemandangan, bahkan mungkin semuanya, berada dalam fokus. Karena itu, Anda dapat menurunkan nilai ISO dan meningkatkan kecepatan rana untuk mengurangi noise dan kabur karena gerakan.

Memotret sudut yang terbuka lebar memiliki keuntungan dan kerugian. Karena belum pernah menggunakan Distagon T*FE 35 mm F1.4 ZA, saya tidak tahu banyaknya vignetting pada lensa F1.4 sebelum membuka file di Lightroom. Walaupun mudah diperbaiki hanya dengan satu tombol, hal ini akan memperbanyak noise di pojok gambar. Lensa pada umumnya hanya bekerja maksimal dengan apertur kecil. Jika Anda berencana memotret pada golden hour atau blue hour seperti yang saya lakukan, saya menganjurkan untuk menggunakan lensa tetap yang cepat dan berkualitas tinggi serta mengurangi apertur hingga 1/3 dari satu stop jika cahaya sekitar mencukupi.

aI7tqVA

Alpha 7R II | FE 24-70 mm F2.8 GM | 30 mm | 1/250 dtk | F2.8 | ISO 2000

2. Pilih Lensa Berdasarkan Prakiraan Kondisi Pencahayaan Saat Anda Memotret dari Udara

Meskipun hal ini mungkin berbeda di setiap perusahaan, demi keamanan, Anda tidak dapat mengganti lensa ketika terbang dengan helikopter tidak berpintu. Karena itu, pemilihan lensa perlu dipertimbangkan masak-masak sebelum penerbangan. Saya tahu bahwa ketika cahaya sekitar masih cukup terang dalam paruh pertama penerbangan, lensa 24-70 mm F2.8 akan menjadi pilihan saya. Saya suka menggunakan lensa tetap, tetapi kemampuan zoom ternyata sangat berguna. Tidak masalah bagi saya untuk memotret sepanjang penerbangan dengan lensa itu, tetapi ketika cahaya mulai meredup, saya perlu menggantinya dengan Distagon T* FE 35 mm F1.4 ZA agar tidak perlu menggunakan ISO yang terlalu tinggi.

Harus bertahan dengan panjang fokus tetap selama paruh kedua penerbangan sangat menyusahkan dan membuat saya berharap membawa lensa 85 mm F1.4. Setelah saya melihat foto yang dihasilkan dan memikirkan panjang fokus yang saya pilih, lensa pilihan saya ternyata tidak mengecewakan walaupun membawa bodi kamera dan lensa ketiga tentu akan membantu. Baik lensa tetap maupun lensa dengan kemampuan zoom memiliki kegunaan dalam fotografi udara. Keputusan tentang lensa yang perlu dibawa akan sangat dipengaruhi oleh kondisi pencahayaan yang akan Anda potret dari udara.

0960xYf

Alpha 7R II | FE 24-70 mm F2.8 GM | 52 mm | 1/250 dtk | F2.8 | ISO 3200

3. Gunakan Mode Pemotretan Burst/Berkelanjutan

Walaupun subjek foto kita tidak bergerak, helikopter selalu bergerak. Jadi, prinsip pemotretan objek bergerak atau kegiatan olahraga dapat diterapkan. Dalam penerbangan ini, saya menyetel kedua kamera untuk menggunakan Pengambilan Gambar Kontinu ‘Hi’. Dengan memilih drive mode ini, bukan pemotretan bingkai tunggal, saya akan mendapatkan serangkaian foto sehingga dapat secara leluasa memilih foto yang paling jelas dan memiliki komposisi terbaik. Setelah melihat foto yang saya dapatkan setelah penerbangan, terbukti bahwa memiliki beberapa foto alternatif kadang-kadang dapat menyelamatkan suatu pemotretan yang hasilnya tidak dapat digunakan.

Salah satu masalah yang tidak saya antisipasi adalah kecepatan pengisian buffer kamera. Alpha 7R II memiliki sensor 42 megapiksel yang memukau sehingga menghasilkan file yang sangat besar ketika memotret dalam format RAW tanpa kompresi. Dalam beberapa situasi, saya tidak dapat melihat foto yang baru saya ambil atau tidak sempat melakukan pemotretan tertentu karena buffer belum selesai. Untuk menanggulanginya, saya mengubah setelan ke Pengambilan Gambar Kontinu ‘Lo’ dan menggunakan kedua kamera secara bergantian sebagai upaya mitigasi. Saya sangat menganjurkan untuk memeriksa kapasitas buffer kamera Anda sebelum penerbangan.

QuTlbPm

Alpha 7R II | FE 24-70 mm F2.8 GM | 70 mm | 1/250 dtk | F2.8 | ISO 3200

4. Gunakan Kecepatan Rana yang Cukup Tinggi

Selama meneliti, saya menemukan beragam pendapat tentang kecepatan rana minimum yang diperlukan.

Faktanya, tidak ada aturan yang jelas dan tegas ketika terbang.

Panjang fokus, ukuran sensor, jenis pesawat, kondisi cuaca, dan faktor lain akan memengaruhi kecepatan rana minimum yang diperlukan agar foto tidak kabur karena gerakan.

Cuaca pada hari kami terbang sedang buruk, tetapi pilot kami berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan posisi helikopter. Saya berencana memulai dengan kecepatan rana 1/250 dan mengambil beberapa potret sampel untuk menentukan serendah apa saya dapat menyetel rana. Akhirnya, saya menggunakan 1/250 selama sebagian besar durasi penerbangan meskipun tetap melakukan penyesuaian sesuai kondisi.

6HvpooD

Alpha 7R II | FE 24-70 mm F2.8 GM | 70 mm | 1/160 dtk | F2.8 | ISO 8000

5. Manfaatkan Stabilisasi Gambar

Stabilisasi gambar (Image stabilisation/IS) memberikan efek yang sangat besar dalam dunia fotografi. IS membantu mengatasi kabur karena gerakan, sehingga Anda dapat menurunkan kecepatan rana hingga beberapa stop. Ada dua jenis IS, stabilisasi sensor dan stabilisasi lensa. Yang paling sering digunakan adalah stabilisasi lensa. Lensa-lensa yang saya gunakan dalam sesi penerbangan kali ini tidak dilengkapi dengan fitur stabilisasi. Untungnya, Alpha 7R II memiliki IS bawaan 5-axis.

Stabilisasi sensor sangat ampuh mengatasi getaran helikopter dan mengurangi kabur karena gerakan. Saya jadi bisa mengurangi kecepatan rana dan menambah beberapa stop cahaya tambahan, jadi saya dapat mengambil foto dengan ISO 3200, bukan ISO 8000.

Saya akan selalu menyarankan untuk menggunakan lensa atau bodi kamera dengan stabilisasi bawaan, dibandingkan yang tidak dilengkapi fitur tersebut.

7dtfT9D

Alpha 7R II | Distagon T* FE 35 mm F1.4 ZA | 35 mm | 1/100 dtk | F1.4 | ISO 6400

6. Keluwesan itu Penting

Jika Anda menginvestasikan waktu, dana, dan sumber daya ke dalam suatu proyek, perencanaan menjadi amat penting. Namun, kehidupan sering tidak terduga. Ingatlah untuk selalu memanfaatkan situasi sebaik mungkin dan bersikap pantang menyerah. Beberapa minggu sebelum penerbangan, saya mendapati pemberlakuan zona larangan terbang di sekitar Menara Trump milik Presiden Donald Trump di New York. Zona larangan terbang ini berdampak besar pada rencana saya karena sejumlah pemotretan jadi tidak dapat dilakukan. Seiring dengan makin dekatnya waktu penerbangan, pikiran saya terbagi dua: apakah saya harus membawa lensa telefoto dan berusaha memotret bangunan yang terdampak zona larangan terbang itu dari jarak yang sangat jauh ataukah saya tetap menjalankan rencana semula dan melihat kondisi di lapangan nanti?

Saya memilih opsi terakhir. Ternyata, itu menguntungkan karena saya tidak memperkirakan pengaruh tiga bandara di sekitar terhadap penerbangan saya. Karena arah angin, pemandu lalu lintas udara mengarahkan penerbangan sedemikian rupa sehingga bagian New York itu menjadi zona larangan terbang. Dengan begitu, bangunan tersebut tidak dapat dipotret dari jauh. Saya juga baru mengetahui bahwa pemandu lalu lintas udara dapat membatasi ketinggian dan jalur penerbangan. Hal ini pun ternyata menjadi berkat tersembunyi karena merangsang kreativitas saya untuk memotret lokasi dan bangunan dari sudut pandang yang berbeda. Saya menganjurkan Anda untuk menyusun rencana, tetapi jangan berkecil hati jika ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan harapan. Teruslah memotret dan mencari komposisi yang unik dan menarik.

Jz7mFAz

Alpha 7R II | FE 24-70 mm F2.8 GM | 43 mm | 1/250 dtk | F2.8 | ISO 3200

7. Merencanakan untuk Kesuksesan

Seperti dalam banyak aspek fotografi, makin baik persiapan dan perencanaan, makin besar peluang kesuksesan. Dalam fotografi udara pun demikian, bahkan sangat memerlukan rencana yang masak dan terperinci. Saya mulai merencanakan kira-kira 6 bulan sebelum penerbangan. Saya memulai riset dengan mencari gambar yang diambil fotografer lain dalam penerbangan mereka di atas New York. Riset ini memberi saya pemahaman tentang keadaan kota dari beragam perspektif udara serta pengaruh berbagai kondisi pencahayaan, seperti golden hour (waktu langit berwarna keemasan) dan blue hour (waktu langit berwarna biru), dalam membentuk kota dan mengubah tampilannya. Dari riset ini, saya dapat menentukan pemotretan yang ingin saya lakukan pada waktu tertentu.

Dengan menggunakan aplikasi PhotoPills, saya dapat mengetahui waktu dan durasi kondisi pencahayaan tersebut, serta arah matahari terbenam. Dengan memanfaatkan beberapa situs, seperti 500px, yang akan memberi pilihan kepada fotografer untuk menampilkan metadata Exif, saya dapat memahami panjang fokus dan setelan kamera yang biasa digunakan. Informasi ini juga membantu proses pemilihan lensa. Saya menyusun riset dan membuat daftar objek pemotretan yang berisi 14 foto yang ingin saya ambil. Pada setiap foto, saya menggunakan beberapa gambar referensi dan menulis deskripsi singkat untuk mengilustrasikan hal yang ingin saya capai. Sebelum penerbangan, saya berdiskusi dengan pilot dan membahas rencana saya secara lebih detail.

Penyampaian dan penjelasan rencana kepada pilot akan menentukan keberhasilan atau kegagalan penerbangan Anda, maka pastikan untuk meluangkan waktu guna merencanakan penerbangan dengan cermat dan menyiapkan daftar objek pemotretan.

p4a44cQ

Alpha 7R II | Distagon T* FE 35 mm F1.4 ZA | 35 mm | 1/250 dtk | F1.4 | ISO 2500

8. Kalau Tidak Punya, Bisa Sewa!

Saat membutuhkan lensa atau kamera tertentu yang tidak saya miliki, saya memanfaatkan jasa perusahaan sewa. Umumnya biaya sewanya sangat terjangkau. Untuk perlengkapan yang tidak selalu Anda gunakan, menyewa adalah pilihan yang ekonomis. Sayangnya, fotografi udara adalah aktivitas yang memakan banyak biaya, dan hanya segelintir orang yang mampu menjadikannya aktivitas rutin. Untuk memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin, sebaiknya Anda rela merogoh kocek lebih dalam demi perlengkapan terbaik yang tersedia.

Saya tidak menggunakan Alpha 7 II, tetapi menyewa dua bodi kamera Alpha 7R II. Sensor 42 megapikselnya tidak hanya memungkinkan mencetak gambar format besar yang dapat dipotong sana-sini, tetapi juga menghasilkan gambar yang lebih jelas dengan ISO tinggi dan rentang dinamis yang lebih besar. Secara keseluruhan, saya tidak menyesal memutuskan untuk menyewa, karena hasil yang saya dapatkan tidak akan sama jika saya memaksakan diri menggunakan kamera yang saya miliki.

6XjungF

Alpha 7R II | Distagon T* FE 35 mm F1.4 ZA | 35 mm | 1/250 dtk | F1.4 | ISO 2000

9. Utamakan Keamanan

Ketika terbang dengan helikopter tidak berpintu, penting untuk memastikan semua perlengkapan Anda terpasang erat di tubuh. Setiap benda yang dapat terlepas, seperti tudung lensa atau tutup lensa, harus dilepas sebelum penerbangan untuk memastikan tidak hanya keamanan diri Anda, tetapi juga orang di bawah Anda. Memastikan kamera terpasang erat seraya tetap memberi Anda keleluasaan untuk bermanuver sangat penting dan merupakan faktor yang benar-benar perlu Anda pertimbangkan.

Menurut saya, tali Kamera Ganda Black Rapid adalah solusi yang tepat. Dibandingkan dengan tali yang dikalungkan atau diselempangkan, sistem ini serupa dengan ransel dan kameranya tergantung di sisi tubuh. Salah satu fitur yang sangat berguna pada sistem ini adalah Lockstar Carabiner Protector yang memberikan mekanisme keamanan tambahan sehingga mengurangi kemungkinan terlepasnya kamera dari karabiner.

J7bEffN

Alpha 7R II | Distagon T* FE 35 mm F1.4 ZA | 35 mm | 1/250 dtk | F1.4 | ISO 3200

10. Copot Pintunya!

Jika akan menyewa pesawat terbang, pastikan Anda mengecek apakah mereka menyediakan layanan terbang tanpa pintu. Mungkin pengalaman ini terdengar menakutkan, tetapi ini adalah satu-satunya cara untuk mengambil gambar dari atas helikopter tanpa ada penghalang. Pintu helikopter akan membatasi komposisi foto dan pantulan dari kaca akan merusak gambar yang Anda ambil.

Artikel asli diterbitkan di Australian Photography Magazine, edisi September 2017.

Artikel ini diterbitkan pertama kali di https://scene.sonyanz.com/





Tentang Fotografer – Dylan Giannakopoulos

Termotivasi oleh berbagai keindahan dunia, fotografer komersial, perjalanan, dan lanskap dari Melbourne, Dylan Giannakopoulos, ingin memotret semua yang menginspirasinya. Gairahnya terhadap fotografi telah membawanya dari gletser di Selandia Baru hingga mengudara di atas jalan-jalan Manhattan. Dengan semangat untuk berbagi kegemaran dan pengetahuannya tentang fotografi kepada orang lain, Dylan menjadi kontributor rutin bagi Australian Photography Magazine dan menjadi Sony Digital Imaging Advocate.




Perlengkapan Dylan
ILCE-7RM2
Alpha 7R II

ILCE-7RM2

SEL2470GM
FE 24-70mm F2.8 GM

SEL2470GM

SEL35F14Z
Distagon T* FE 35mm F1.4 ZA

SEL35F14Z