Alpha 7S III: Pengalaman video full-frame terbaik

Baik mengambil gambar sendiri maupun bersama tim produksi, temukan alasan mengapa Alpha 7S III adalah pilihan yang tepat untuk semua kebutuhan pembuatan video Anda. 

Fitur video kelas profesional

Dalam rekaman film memukau yang diambil oleh Den Lennie ini, Alpha 7S III menunjukkan keunggulannya dalam mengabadikan semangat dan dedikasi seorang peselancar di Sunshine Coast, Australia. Alpha 7S III memiliki rentang dinamis lebar 15 stop yang mencegah kerusakan warna. Meskipun ada sedikit clipping, kamera ini mampu menangkap seluruh elemen video, termasuk highlight. Hasilnya, pengguna bisa dengan mudah menurunkan grade demi mendapatkan hasil gambar yang lebih memuaskan.   

Rekam video 4K dengan resolusi120 p, atau video HD dan resolusi hingga 240 p untuk membuat rekaman gerakan lambat yang menawan.

    

Kamera ini mampu mengambil gambar dengan kualitas 4K dengan resolusi 120 p, atau dengan kualitas HD dengan resolusi hingga 240 p agar bisa menciptakan efek gerakan lambat yang memukau untuk menonjolkan keindahan suatu momen. Sensor 12,1 MP dari Alpha 7S III juga memberikan piksel besar untuk memastikan bahwa setiap gambar yang diambil jelas dan bebas pikselasi sehingga setiap adegan tampak sejernih kristal, bahkan dalam kondisi low-light. 

Sensor 12,1 MP Alpha 7S III memberikan piksel besar sehingga setiap gambar yang diambil terlihat jernih dan kaya akan detail.

Adegan di atas memiliki cahaya latar dan banyak detail kecil, seperti tekstur halus layaknya kertas tisu pada pohon paperbark di sungai. Untuk menangkap seluruh detail dan mendapatkan gambar yang diinginkan, Den mendorong kamera pada slider dengan sangat perlahan pada 120 frame per detik saat model berjalan melintasi sungai. Adegan diambil pada 600 megabit dan all intra-frame, yang memudahkan grading karena ia dapat menarik komposisi warna dari dedaunan hijau lalu menyesuaikan warna dan shade. Ini adalah contoh dari potensi penuh kamera ini. 

Dapatkan gambar jernih dan tajam hanya dengan menggunakan ISO 500 dalam S-Log 3.

Den juga mendorong dirinya dan Alpha 7S III untuk mengambil gambar dalam situasi menantang, seperti keadaan dengan pencahayaan minim. Untuk menjaga ketajaman gambar, ia mengambilnya dengan ISO serendah mungkin. Dengan Alpha 7S III dan lensa G Master Sony yang cepat, ia mampu mengambil gambar tajam dan jelas menggunakan hanya ISO 500, dengan S-Log 3.

“Saya tidak pernah mengatur keseimbangan putih. Saya mengambil gambar dengan tungsten ketika di dalam ruangan atau dengan cahaya matahari ketika di luar ruangan. Saya melakukan itu agar semua gambar yang saya ambil berada di 5.600K. Dengan demikian, saya memiliki sebuah fondasi ketika melakukan grading hasil pengambilan gambar,” jelasnya.

Alpha 7S III merekam hingga 10 bit 4:2:2 secara internal. Ini berarti kamera bisa menangkap hasil rekaman yang lebih bersih karena warna di tepian tampak lebih jelas. Selain itu, kamera ini dapat merekam beragam adegan dalam berbagai pencahayaan dengan mudah. Alpha 7S III menghasilkan rekaman film dengan kualitas yang sangat tinggi sehingga sempurna untuk proses layar hijau. 

Alur kerja tanpa gangguan menggunakan camcorder profesional

Didesain berdasarkan sistem “One Mount” Sony, Alpha 7S III menawarkan fleksibilitas luar biasa karena bisa dipasangkan dengan 57 lensa E-mount asli dari Sony. Pemutakhiran, penggantian, dan berbagi lensa dengan camcorder profesional Sony lainnya yang digunakan dalam produksi menjadi cepat, murah, dan mudah.

Alpha 7S III juga memiliki sains warna yang ditingkatkan yang bekerja dengan sensor untuk mereproduksi warna, khususnya warna kulit, secara nyata. Didesain dengan S-Gamut3/S-Gamut3 cine, kamera ini cocok dengan camcorder profesional. Dengan output HDMI 16 bit RAW, produksi dan pascaproduksi menjadi lebih mudah dan tidak memusingkan.

 Untuk pengambilan gambar ini, Den menggunakan H.265, 10 bit 422, yang mempermudah alur kerja pengeditan. Den menekankan bahwa sebagai pembuat film non-teknis, kamera mengerjakan banyak tugas di balik layar. Anda hanya perlu memilih setelan yang terlihat bagus, dan kamera akan mengerjakan sisanya.  

Mengoptimalkan ukuran kru dan biaya produksi
Mengoptimalkan ukuran kru dan biaya produksi

“Saya lebih suka bekerja dengan satu atau dua orang. Dengan sedikit peralatan, saya lebih leluasa bergerak.” 

Alpha 7S III menghasilkan video kualitas tinggi dalam sistem yang padu dengan pengaturan sederhana oleh satu orang tanpa sambungan eksternal atau aksesori berlebih. Alpha 7S III menghadirkan sistem autofokus Sony yang ternama dan Anda bisa mengelola tracking real-time atau dengan sentuhan tanpa perlu kru ekstra untuk mengatur fokus.

Di lingkungan yang tidak memungkinkan pengendalian pencahayaan, “Anda butuh kamera yang bisa melakukannya untuk Anda,” terang Den. Dengan sensitivitas tinggi dan performa low-light yang ditingkatkan, serta kontrol noise yang lebih baik di ISO hingga 409.600, Alpha 7S III memudahkan pengambilan adegan apa pun dalam pencahayaan minim atau bahkan tanpa kru pencahayaan, di mana pun dan kapan pun.  

Didesain berkinerja tinggi
Performa meyakinkan 

“Kami mengambil gambar selama satu setengah jam pada hari pertama. Kamera terus menyala, dengan layar LCD tertutup dan tersambung pada monitor eksternal atau menggunakan EVF. Kamera tidak terasa panas, tak ada masalah sama sekali.“

  Dengan sistem pengelolaan panas baru, pendinginan Alpha 7S III lima kali lebih baik dan tidak memiliki batas waktu perekaman. Bahkan saat mengambil gambar dalam ruangan yang berpotensi mengalami akumulasi panas, kamera bekerja dengan sangat baik.

    Kamera ini mengggunakan baterai kapasitas besar Sony NP-FZ100 yang mampu merekam gambar 4K 60 p secara kontinu selama satu jam. Ia mampu mengelola 2 kartu CF-Express untuk mendukung file besar dan pengambilan gambar 4K 120 p. Anda dapat mengambil gambar dengan mudah dan mulus di sepanjang produksi.  

Lensa-Lensa Favorit Den 

“Saya selalu ingin mendapatkan kualitas maksimal dengan hasil terbaik yang bisa didapatkan tanpa harus melakukan banyak penyesuaian dalam proses pasca-pengeditan. Saya tidak mau berkompromi dengan hasil gambar yang saya ambil.”

Untuk urusan memilih lensa, lensa dengan apertur maksimal dan resolusi tertinggi menjadi favorit Den. Selain menawarkan fleksibilitas kreatif yang tinggi dan kemampuan untuk menangkap detail terkecil dengan mudah, Den mengatakan bahwa lensa G Master (GM) dari Sony adalah pelengkap yang pas untuk Alpha 7S III, bahkan saat merekam adegan yang paling menantang sekalipun.  

Lensa G Master (GM) Sony adalah pelengkap yang sempurna untuk Alpha 7S III.

Untuk pengambilan gambar ini, Den melakukannya dalam ruang sempit dengan pencahayaan sangat terbatas. Agar bisa menangkap sebanyak mungkin cahaya dan tekstur ke dalam frame, ia memilih FE 12–24 mm F2.8 GM (SEL1224GM) dari Sony, karena dengan apertur F2.8, ada banyak cahaya yang bisa ditangkap oleh sensor dan ketajaman gambar bisa merata dengan distorsi yang minim.  

SEL1224GM menangkap banyak cahaya dengan sensornya, sambil tetap memastikan bahwa ketajaman tetap merata dengan distorsi yang minim.

Menurutnya, sulit untuk mengambil gambar dengan cahaya matahari langsung karena lensa sering mengalami flare yang tidak diinginkan. Sejak adanya Lapisan Nano AR pada SEL1224GM yang menghilangkan flare dan ghosting, lensa tersebut bekerja dengan sempurna saat dipasangkan dengan rentang dinamis 15 stop dari Alpha 7S III untuk menghasilkan gambar yang diinginkan.

SEL1635GM adalah lensa serbaguna bersudut lebar yang memberikan efek bokeh yang luar biasa.

Lensa favorit Den lainnya adalah FE 16–35 mm F2.8 GM (SEL1635GM). Lensa serbaguna bersudut lebar, yang juga dapat digunakan untuk mengambil gambar close-up dengan efek bokeh yang menawan.Ia juga menyukai FE 70–200 mm F2.8 GM OSS (SEL70200GM), yang kerap digunakannya untuk mengambil gambar close-up dan sinematik.

SEL70200GM menangkap gambar dengan efek bokeh yang mulus, sementara kaca Super ED-nya menghasilkan warna yang natural dan menawan,

Den menyoroti bahwa apertur 11-blade menciptakan bokeh yang mulus, sementara kaca Super ED menghasilkan warna yang natural dan menawan. Hasilnya, lensa ini menjadi pilihan sempurna untuk mengambil rekaman film sinematik. Ia juga mengandalkan kamera ini dalam melakukan tracking autofocus dan terkesan dengan motor RDSSM tanpa suara. 

SEL70200GM memberikan kompresi yang cukup sehingga bisa menghasilkan efek visual yang menawan.

Menggunakan lensa ini, Den menunjuk ujung 200 mm, yang memberinya kompresi yang cukup untuk menciptakan efek visual memukau, seperti adegan peselancar membelakangi matahari.

Penafian: Opini yang disampaikan dalam publikasi ini adalah pendapat Den dan tidak mencerminkan opini atau pandangan Sony Singapore.

Perlengkapan Den
ILCE-7SM3
Alpha 7S III

ILCE-7SM3

SEL1224GM
FE 12-24 mm F2.8 GM

SEL1224GM

SEL1635GM
FE 16-35mm F2.8 GM

SEL1635GM

SEL70200GM
FE 70-200mm F2.8 GM OSS

SEL70200GM

Simak pengalaman Den Lennie menggunakan Alpha 7S III.

Tentang Den

Rekaman video & konten diambil oleh Den Lennie, seorang produser video, business coach, dan marketing strategist dengan pengalaman industri lebih dari 25 tahun. Ia telah menulis tiga buku mengenai bisnis video, menjadi host dari sebuah podcast mingguan, dan menjadi pembicara untuk topik video pada berbagai acara di seluruh dunia.


Produksi Ringkas
Kualitas video terbaik dalam Alpha full frame 

Direkam oleh pembuat film Brandon Li menggunakan Alpha 7S III , klip ini menangkap keindahan dan drama di alam liar dengan detail menakjubkan dan kualitas sejernih kristal.

Alpha 7S III memiliki sensor 12,1 MP baru, dengan rentang dinamis 15 stop dan perekaman internal 4:2:2 10 bit yang memungkinkannya menangkap detail paling kecil dalam keadaan low-light yang ekstrem.

Brandon menjelaskan, “Untuk pengambilan gambar di bawah cahaya bulan, saya hanya mengandalkan bulan itu sendiri. Saya memaksimalkan performa kamera... tetapi ternyata potensi yang dimilikinya jauh lebih besar!”  

Dengan sains warna yang canggih, kamera ini mampu mereproduksi gradasi warna terhalus dan terlembut yang dapat diambil saat malam hari atau saat pengambilan adegan menggunakan pencahayaan natural dari langit badai dengan sedikit noise. 

Diciptakan untuk ekspresi kreatif

Kamera ini juga menawarkan performa rolling shutter yang disempurnakan, yang membuatnya mendekati tiga kali lebih baik dibandingkan pendahulunya. Ini artinya, gambar panning dapat diambil dengan lebih mulus dan tidak sering terguncang saat kamera dipindahkan. Selain itu, berkat dukungan kemampuan Alpha 7S III untuk merekam gambar dengan kualitas 4K 120 p dan full HD 240 p, siapa pun dapat dengan mudah membuat momen gerakan-lambat dan gerakan-lambat ekstrem untuk memberikan sentuhan dramatis.

 Brandon juga mengatakan, “ ISO-nya akan berbeda ketika mengambil gambar dalam log dibandingkan dengan pengambilan non-log. Jika Anda mengambil gambar dalam log, ISO akan jauh lebih tinggi, tetapi performa kamera akan tetap bagus dari segi autofokus dan yang lainnya.”  

Ideal untuk dioperasikan oleh satu orang

“Saya biasanya berkeringat, berlari, dan menggunakan gimbal.”   

Alpha 7S III adalah sistem full frame ringkas yang ideal untuk produksi tanpa kru yang tidak mengorbankan kualitas dan keberagaman fungsi. Ini adalah perangkat profesional yang bisa dengan mudah dibawa menggunakan ransel. Layar 360° membantu Anda membingkai gambar dari sudut mana pun, sementara ukurannya yang kecil membuatnya mudah digunakan dalam ruangan sempit dari sudut tinggi atau rendah. Kamera ini menantang Anda melakukan pengambilan gambar dengan tingkat kesulitan paling tinggi. 

Kamera ini juga menawarkan fitur tracking real time dan eye-AF yang cocok digunakan dengan gimbal untuk mendapatkan gambar kreatif tanpa perlu mencemaskan penjagaan fokus atau penambahan anggota kru. Selain itu, performa low-light yang baik mengurangi kebutuhan akan asisten pencahayaan.   

Karena dirancang dengan sistem autofokus terkemuka, Alpha 7S III memiliki 759 titik AF. Kamera ini dapat dengan mudah menjaga fokus pada subjek yang bergerak demi menciptakan adegan aksi yang mulus. Ini tentunya sangat penting saat merekam gerakan-gerakan rumit menggunakan gimbal.  

“Inspirasi saya selalu mengalir. Maka, kamera saya harus bisa mengikuti aliran itu.” 

Menurut Brandon, pengambilan gambar dengan intra-recording 10 bit 4:2:2 menciptakan sebuah proses, mulai dari perekaman sampai pengeditan, yang lancar. Kreator dapat mulai mengedit adegan segera setelah mengambil gambar karena ia hanya perlu menyambungkan kamera, lalu membuka file pada perangkat pengeditan.  

“Saya bukan juru warna... Saya hanya melakukan sedikit penyesuaian terhadap warna karena menurut saya kamera harus menangkap warna kulit dengan tepat.” 

Proses pasca-produksi juga dibuat lebih sederhana dengan sains warna yang lebih baik. Kamera ini dapat menangkap dan mereproduksi warna dengan sempurna, bahkan dalam kondisi low-light.  

SEL24F14GM ideal untuk mengambil potret dalam kondisi low-light, dengan isolasi yang baik dan fokus yang tajam.

Andal di mana pun

“Yang jelas, saya akan lebih dulu panas ketimbang kameranya.” Saya tak pernah mengalami masalah kepanasan meskipun kamera terpapar cahaya matahari langsung di tengah musim panas, ketika harus dipakai di tengah padang pasir selama hingga tiga jam, atau tidak merekam selama tiga jam tanpa jeda. Kamera ini bahkan tidak kepanasan ketika digunakan dengan digenggam pada 120 p.”

Alpha 7SIII memiliki sistem manajemen panas baru yang lima kali lebih dingin dan tidak memiliki batas waktu perekaman. Kamera ini menggunakan baterai kapasitas besar Sony NP-FZ100 yang mampu bertahan walau Anda merekam video 4k 60 p tanpa jeda selama satu jam.

Kamera ini juga merupakan sahabat yang andal, bahkan pada medan yang paling menantang sekalipun, berkat adanya fitur kedap cuaca yang melindunginya dari hujan deras dan lingkungan yang lembap.

Lensa-Lensa Favorit Brandon

“Sebagai juru kamera yang harus terus bergerak, sering kali saya tidak memiliki kru. Oleh karena itu, perlengkapan yang ringan dan mudah dibawa adalah pilihan yang paling tepat.” 

Untuk urusan lensa, Brandon memprioritaskan lensa ringan dengan kemampuan fokus yang cepat karena ia paling sering mengambil gambar menggunakan gimbal dan monopod. Salah satu lensa favoritnya adalah FE 24 mm F1.4GM (SEL24F14GM) .

Brandon mengandalkan SEL24F14GM sebagai salah satu lensa favoritnya.

SEL24F14GM adalah lensa sudut lebar dengan apertur besar yang memungkinkan Brandon mengambil gambar sudut lebar dengan kedalaman bidang dangkal. Motor XD Linear yang dipasangkan dengan deteksi fase dan sistem autofokus dari Alpha 7S III sangat berguna saat ia harus melakukan gerakan gimbal dengan fokus pada model sambil tetap menampilkan latar belakang.

SEL24F14GM adalah lensa bersudut lebar dengan apertur besar untuk melakukan pengambilan gambar bersudut lebar dengan kedalaman bidang yang dangkal.

Dengan bobot hanya 445 gram, lensa ini ringan dan mudah digunakan dalam pengambilan gambar dinamis, bahkan saat terpasang pada kamera dan gimbal sekalipun. Lensa ini juga menghasilkan warna yang menarik, dan gambar tampak jernih dengan ketajaman yang merata.

Saat terpasang pada kamera dan gimbal sekalipun, lensa masih tergolong ringan dan mudah digunakan untuk pengambilan gambar dinamis.

Brandon menegaskan bahwa Apertur F1.4 dari SEL24F14GM membuatnya mampu memaksimalkan kinerja Alpha 7S III. Meskipun adegan cahaya bulan ini direkam tanpa menggunakan cahaya tambahan, ia masih bisa menangkap gambar yang jernih berkat sensitivitas dan kontrol noise kamera yang efektif. 

Lensa lain yang menurut Brandon wajib dimiliki adalah FE 135 mm F1.8GM (SEL135F18GM).

Apertur F1.4 pada SEL24F14GM makin menyempurnakan performa Alpha 7S III

Walaupun sedikit lebih berat, lensa SEL135F18GM masih bisa dipasangkan dengan mudah pada perangkat gimbal untuk mengambil gambar close-up dengan sedikit kompresi terhadap subjek. 

SEL24F14GM 0111

Lensa ini ideal dalam mengambil potret low-light dengan isolasi dan fokus yang tajam terhadap model. Apertur 11-blade dan elemen lensa XA menjadikan lensa ini pilihan ideal untuk pemotretan low-light dengan isolasi yang baik dan fokus tajam terhadap model, dengan latar belakang yang diberi efek bokeh yang menawan.

Untuk urusan pembuatan film, Brandon kerap menggunakan lensa Zeiss dari SEL50F14Z.

Selain itu, ia juga menggunakan FE 50 mm F1.4 ZA (SEL50F14Z). Meskipun bukan G Master Prime, Brandon kerap menggunakan lensa Zeiss untuk mengambil gambar close-up. Ini adalah panjang fokus favoritnya saat membuat film.

Opini yang disampaikan dalam publikasi ini adalah pendapat Brandon dan tidak mencerminkan opini atau pandangan Sony Singapore.

Perlengkapan Brandon
ILCE-7SM3
Alpha 7S III

ILCE-7SM3

SEL24F14GM
FE 24mm F1.4 GM

SEL24F14GM

SEL135F18GM
FE 135mm F1.8 GM

SEL135F18GM

SEL50F14Z
Planar T* FE 50mm F1.4 ZA

SEL50F14Z

Simak pengalaman Brandon Li menggunakan Alpha 7S III.

Tentang Brandon Li

Rekaman Video & konten diambil oleh Brandon Li . Ia telah berkeliling dunia sebagai seorang nomad selama 7 tahun, yang dilakukannya sambil membuat film tentang masyarakat dan budaya yang dijumpainya di sepanjang perjalanan. Pendekatannya yang minimalis dalam membuat film membuatnya mampu mendapatkan rekaman yang jujur dengan gaya visual yang dinamis. Videonya telah memenangi Best of the Year dari Vimeo, Penghargaan Webby, dan Travel Video Awards. Ia pernah hadir di National Geographic, BBC, TIME, TEDx, dan Smithsonian Institute.

Ikuti Panel Diskusi Alpha 7S III bersama Den Lennie & Brandon Li