dari Mobile01
Setelah menanti selama lima tahun dan tenggelam dalam riset yang panjang, kami menyadari bahwa target Sony adalah menjadi yang terbaik dalam perekaman 4K dan meningkatkan kualitas gambar 4K-nya semaksimal mungkin. Alpha 7S III mampu menjalankan perekaman 4K 120P dengan kedalaman 10-bit dan pengambilan sampel warna 4:2:2 saat menggunakan kompresi All Intra, Long GOP, atau S-Log3 yang memungkinkan pencapaian rentang dinamis hingga 15 stop. Setelah mencoba dan mengamati lebih jauh, kami menyadari bahwa menunya dirombak total, pengoperasian menjadi lebih nyaman, dan tombol-tombolnya pun ramah pengguna. Kamera ini memiliki layar flip buka-samping dan jendela bidik elektronik dengan 9,44 juta dot. Selama uji coba, makin jauh kami menguliknya, makin banyak pula kejutan-kejutan kecil yang kami temukan. Sudah tidak perlu diragukan lagi bahwa insinyur Sony bekerja dengan sangat keras untuk membuat model fenomenal ini menjadi sesempurna mungkin. Saya sangat merekomendasikan Alpha 7S III. Jika Anda tertarik mendalami videografi, jangan lewatkan ulasan-ulasan kami.
Kami sudah menunggu kehadiran model S berwarna biru ini selama 5 tahun sejak Oktober 2015. Waktu itu, seri Alpha 7 baru mencapai generasi keduanya. Setelah Alpha 7S IIdirilis, ada 10 model Alpha lainnya yang diluncurkan. Selama periode ini, Sony mendapatkan banyak masukan dari konsumennya. Meskipun bentuk kamera-kamera Sony tidak banyak berubah, operabilitasnya sangatlah berbeda.
Alpha 7S III memiliki prosesor BIONZ XR ganda, dengan dua chip fisik pada mainboard-nya. Prosesor yang dimilikinya 8x lebih kuat dari mesin pemroses gambar BIONZ X yang sebelumnya. Oleh karena itu, kamera ini dapat menawarkan kinerja fokus yang sama di mode apa pun, bahkan di mode 4K120P atau mode rekam All Intra 600 Mbps sekalipun.
Di mode S-Log3, Alpha 7S III memiliki colour science yang sama cerdasnya dengan FX9. Karenanya, Alpha 7S III, dengan mobilitasnya yang lebih baik, dapat menjadi kamera cadangan untuk FX9 Anda. Alpha 7S III juga mendukung output data RAW 16-bit. Dengan menggunakan kabel HDMI, Anda dapat mengekspor data ke monitor perekaman Atomos Ninja V guna memperoleh konten pascaproduksi dengan kedalaman warna yang ultratinggi.
Alpha 7S III memiliki sensor gambar 12.1-megapixel back-illuminated Exmor R CMOS full-frame baru untuk menghasilkan sensitivitas yang tinggi dan noise yang rendah.
Mode Aktif Optical SteadyShot™ memberikan stabilitas gambar optik yang dibutuhkan untuk pengambilan gambar film. Selain itu, filter yang ada di depan sensor gambar CMOS berosilasi pada frekuensi 70.000 cycle per detik untuk mengusir debu dari permukaan sensor.
Di sisi kanan kamera, ada tombol perekam video yang tampil mencolok. Desain serupa dapat dijumpai pada Sony ZV-1, juga Sony Alpha 7C yang baru.
Tombol ini memiliki kedalaman yang cukup untuk membuatnya dapat terlihat dengan jelas.
Ketika Alpha 7S III diluncurkan, kami menyambut hangat keberadaan port HDMI Type-A.
Dahulu, kamera Sony menggunakan port dan konektor Micro-HDMI yang mudah rusak. Untungnya, masalah ini akhirnya terendus oleh Sony. Kami tidak tahu akan seperti apakah model-model kamera Sony yang akan datang. Akan tetapi, untuk Alpha 7S III yang dioptimalkan untuk perekaman video, HDMI Type- A adalah pilihan tepat yang sangat dibutuhkan.
Lalu, port USB Type-C™ kamera ini mendukung kapabilitas pengisian daya cepat PD (Power Delivery). Akan tetapi, meskipun pengisi daya USB sudah terhubung ke port USB Type-C™, daya baterai internalnya akan tetap terpakai selama pengambilan gambar. Jika konsumsi daya selama pengambilan gambar terlalu besar atau baterai terlalu lemah, perekaman mungkin akan dihentikan selama pengisian daya.
Dari pengoperasian punggung kamera, kedalaman tombol, bentuk joystick mini, dan masih banyak lainnya, kami bisa menyimpulkan bahwa Alpha 7S III mewarisi desain punggung kameranya dari Alpha 7R IV, terutama joystick mininya.
Tombol AF-ON yang sengaja dibuat lebih dalam juga merupakan pilihan desain ciamik yang sudah lama dirasakan sejak Alpha 7R IV. Di Alpha 7S III, tidak ada tombol yang tidak jelas atau terlalu dangkal sampai-sampai penggunanya harus menggunakan ujung kuku untuk menekannya. Sebagai hasilnya, dalam kegelapan sekalipun, Anda dapat menebak-nebak fungsi tombol dengan menyentuhnya.
Layar flip buka-samping juga merupakan perubahan besar lainnya pada seri Sony Alpha 7. Desain layar flip buka-samping sudah kerap dijumpai di banyak kamera Sony, seperti seri RX100, RX10, RX1, model α dengan nomor model empat digit, Alpha 7, dan bahkan seri baru semacam Alpha 9. Beberapa layar dapat dibuka 90 derajat ke atas dan 45 derajat ke bawah. Beberapa tahun belakangan ini, beberapa layar flip buka-atas bahkan dapat dibuka 180 derajat untuk memudahkan orang-orang yang ingin berswafoto ria.
Namun demikian, layar flip buka-samping terbukti lebih fleksibel karena layar flip buka-atas dapat bertabrakan dengan mikrofon eksternal di bagian atas kamera. Sejak model ZV-1, Sony mulai menggunakan layar flip buka-samping pada kameranya, yang kini mencakup seri Alpha 7. Dari apa yang saya ketahui tentang Sony, ia pasti menerima banyak saran dari konsumen dan bersedia membuat penyesuaian. Saya rasa desain layar ini akan terus digunakan di semua kamera Sony.
Karena Alpha 7S III adalah sebuah produk baru, kita dapat menggunakan standar yang lebih tinggi. Fotografer sering menggunakan port yang bertebaran di bodi kamera. Mereka mungkin menggunakan jack mikrofon untuk monitoring suara, menggunakan port USB Type-C™ untuk menghubungkan kamera dengan pengisi daya saat merekam dalam waktu yang lama, atau menggunakan port HDMI untuk transmisi data. Bukan tidak mungkin bahwa semua port yang ada akan digunakan, dan ini akan membuat layar menjadi sulit dibuka.
Jack headphone (hitam) di sisi samping dan port pengisian daya USB Type-C™ di bagian bawah mungkin terhalang saat layar dibuka, dan kabel-kabel yang terhubung ke beragam port dapat memengaruhi sudut buka layar. Jika ini terjadi, Anda harus membuka layar di punggung kamera atau membiarkan layar berada dalam posisi setengah terbuka yang kurang mengenakkan.
Layar LCD 9,44 juta dot adalah salah satu keunggulan Alpha 7S III. Layar ini memiliki resolusi EVF tertinggi di dunia, dan menawarkan perbesaran 0,9x yang tiada tanding.
Jika rasio aspeknya adalah 4:3, keberadaan 9,44 juta dot akan menawarkan resolusi EVF sebesar 2048×1536 (resolusi QXGA). Resolusi 3,145-juta × 3 (RGB) = 9,437 juta dot. EVF dari Alpha 7R IV adalah 5,76 juta dot (=1600×1200×3). Berikut adalah beberapa contoh yang dapat digunakan sebagai perbandingan:
|
Jumlah dot dalam juta |
Resolusi |
Standar layar |
|
|
Alpha 7S III |
9.44 |
2048 × 1536 |
QXGA |
|
Alpha 7R IV / Alpha 7R III / Alpha 9 |
3.68 |
1600 × 1200 |
UXGA |
|
Alpha 7 III / Alpha 7C / Alpha 6600 / Alpha 6400 |
2.36 |
1024 × 768 |
XGA |
|
Alpha 6100 |
1.44 |
800 × 600 |
SVGA |
Resolusi EVF Alpha 7S III 2,5 kali lipat lebih besar dari Alpha 7R IV, Alpha 7R III, dan Alpha 9 II, dan empat kali lebih besar dari Alpha 7 III, Alpha 7C, Alpha 6600, dan Alpha 6400.
▲ Ini adalah EVF Alpha 7S III, yang dipotret menggunakan ponsel. Detail yang tampak pada foto berbeda dari apa yang terlihat dengan mata telanjang. Tepi foto lebih kabur karena gambar diambil dengan ponsel.
Lalu, kira-kira seperti apakah gambar aslinya di EVF Alpha 7S III? EVF ini menawarkan detail terbaik yang pernah saya lihat. Di layar 1,44 juta dot, Anda dapat dengan jelas melihat garis resolusinya; Di layar 2,36 atau 3,68 juta dot, performa yang didapat cukup baik; sedangkan di layar 5,76 juta dot milik kamera lain, kinerjanya sangat baik. Namun, pada layar 9,44 juta dot Alpha 7S III’s, semua tampak sempurna, dan mata manusia tidak akan bisa menangkap garis pindai pada gambar.
Yang membuat saya sungguh terkesan adalah bagaimana detail yang ada dipresentasikan. Kinerja seperti ini harusnya menjadi arah perkembangan EVF pada masa mendatang.
Satu-satunya cela yang dapat kami temukan di sini adalah huruf dan ikon yang kabur di bagian bawah gambar (mengingat resolusi ponsel rendah, ini tentu sulit tertangkap pada gambar di atas). Menurut saya, ini terjadi karena Alpha 7S III masih menggunakan set font dan ikon yang biasanya digunakan pada jendela bidik 3,68 juta dot atau yang memiliki resolusi lebih rendah. Oleh karena itu, jika Anda mencermati gambar pada jendela bidik dengan mata telanjang, Anda tidak dapat melihat garis pindai di EVF, tetapi fontnya tampak kabur.
Slot kartu memori yang ada di sisi samping dilengkapi kunci, sesuatu yang tidak dimiliki Alpha 7R IV.
Alpha 7S III memiliki dua slot kartu memori, yang mendukung kartu CFexpress Type A dan SD card. Hanya dua kartu yang bisa dimasukkan pada saat yang sama, dan kedua kartu harus dimasukkan dengan arah yang berkebalikan.
▲ Kartu CFexpress Type A lebih kecil dari SD card
Slot kartu memori Alpha 7S III mendukung kartu CFexpress Type A dan SD card. Kartu CF-E Type A lebih kecil dari SD card, tetapi ia lebih cepat. Kartu Tough 80G Sony ini memiliki kecepatan baca 800 MB/s dan kecepatan tulis 700 MB/s. Artinya, kartu ini mampu mendukung laju transfer yang mencapai 5.600 Mbps. Akan tetapi, kecepatan transfer maksimum Alpha 7S III untuk akses internal adalah 600 Mbps, yang jauh lebih rendah dari kecepatan transfer maksimum jenis kartu memori yang digunakannya.
Alpha 7S III tidak mengharuskan Anda untuk hanya menggunakan kartu CF-E pada laju transfer maksimal. Saat menggunakan SD card yang cepat sekalipun (seperti kartu SD card UHS-II), Anda dapat menyalakan format XAVC S-I 4K untuk merekam video 60P pada kecepatan bit 600 Mbps. Kamera ini baru akan mengingatkan Anda untuk menggunakan kartu dengan kecepatan yang sudah ditentukan saat menggunakan setelan ini.
Selain itu, ingatlah bahwa jika Anda ingin merekam video 60P dalam format XAVC S-I 4K pada kecepatan bit 600 Mbps, kartu CF-E Type A haruslah VPG200 atau yang lebih tinggi, yang berarti bahwa kecepatan tulis minimalnya adalah 200 MB/s. Kartu pada gambar di atas adalah VPG400.
Selanjutnya, mari kita bahas soal fitur pembuangan panas kamera ini.
Untuk pembuangan panas, metode yang banyak digunakan oleh produsen saat ini ada dua: pembuangan panas aktif dan pembuangan panas pasif. Pembuangan aktif menambahkan kipas di dalam kamera untuk secara aktif memasok udara dingin dan mendorong keluar panas dari kamera, sementara pembuangan pasif menggunakan komponen konduktor panas untuk menyerap dan menyebarkan panas ke area konduktor panas lainnya sehingga panas bisa segera dihilangkan dari area penghasil panas.
Perekam video profesional menggunakan pembuangan panas aktif. Keuntungan metode ini adalah bahwa kipas yang digunakan biasanya sangat dapat diandalkan. Makin tinggi panasnya, makin cepat pula kipas berputar. Kelemahannya adalah kipas akan menghasilkan bunyi dan menambah ukuran serta berat kamera. Pembuangan panas pasif digunakan pada sebagian besar kamera digital konsumen, dan pada beberapa kasus pembuangan panas tidak diperlukan karena kamera generasi lama sepertinya menghasilkan panas yang masih bisa ditoleransi.
Namun, untuk perekaman video 4K 60P atau lebih tinggi, pembuangan panas menjadi masalah yang harus dipecahkan oleh produsen kamera.
Sony Alpha 7S III menggunakan metode pembuangan pasif. Bagian berwarna perak di atas dapat membuang panas yang dihasilkan bodi kamera ke kedua sisinya.
Sony berkata bahwa kamera ini memiliki “senjata ajaib”. Ini adalah heatsink unik berbahan grafit yang berbentuk menyerupai Sony Σ (sigma) yang berfungsi untuk memberikan pembuangan panas yang efisien. Sony mengeklaim bahwa heatsink ini “mampu membuang panas 5x lebih efektif untuk perekaman berdurasi lama tanpa mengganggu stabilisasi gambar”. Namun, Sony tidak menyebutkan jenis kamera apa yang menjadi pembandingnya, dan bagaimana efisiensi dihitung.
Bagi saya, ini adalah perubahan terpenting yang pernah dialami seru Alpha 7. Dahulu, rendahnya logika penataan menu membuat saya kesal. Kini, keseluruhan menu berubah total. arah indikator diubah, mode tampilan diubah, mode pengoperasian diubah, dan logika penataan juga sudah berubah. Anggap saja semua sudah berubah!
Enam menu utama ditampilkan dengan ikon dan warna yang berbeda. Ketiganya ditata di tiga level, dan, seperti yang bisa kita lihat, tiga level yang berbeda pada saat yang sama. Anda akan selalu tahu apa yang sedang Anda kerjakan. Menu foto/perekaman video juga tidak kalah nyaman digunakan. Saat dial diputar ke “photo”, setelan foto akan muncul. Sebaliknya, saat diputar ke “video recording”, setelan perekaman videolah yang akan muncul. Semuanya jelas dan sederhana! Terakhir, menu kamera mendukung kontrol sentuh dan usap. Seperti inilah seharusnya standar menu yang baik.
Saya mencoba menggunakan kamera Alpha 7R III di National Concert Hall. Selama latihan, saya diminta mematikan semua suara karena kamera terus berbunyi saat mengatur fokus. Di sana, saya menghabiskan setidaknya lima menit untuk mematikan semua suara di berbagai menu setelan suara Alpha 7R III, termasuk suara rana mekanis, suara indikator in-focus, dan suara video. Ketiga suara ini bertebaran di banyak posisi di antara lebih dari 100 menu setelan. Kini, Alpha 7S III memiliki Mode Diam yang membantu Anda mematikan semua suara sekaligus sampai dihidupkan kembali. Bunyi yang tadinya ada hampir tak terdengar, dan bahkan suara drive apertur dapat diredam. Hebatnya lagi, menu untuk mode ini mudah ditemukan.
Seperti model generasi kedua lainnya, Alpha 7S III memiliki resolusi 12 megapiksel dan mendukung perekaman 4K, tetapi kualitas gambarnya cukup berbeda.
Untuk perekaman 4K 60P, Alpha 7S III memberikan tiga opsi berbeda:
Dibandingkan H.264, H.265 menawarkan dua kali lipat kompresi data dengan level kualitas video yang sama, dan file yang dihasilkan jauh lebih kecil. Akan tetapi, kelemahannya adalah tingginya tuntutan spesifikasi komputer. Ini ibarat menyimpan barang di dalam brankas kecil: Anda harus menghabiskan banyak waktu memecahkan sandi untuk dapat membukanya. Memasukkan hal yang sama ke dalam H.264 tak ubahnya memasukkannya ke dalam kardus, tetapi kardus itu mungkin memakan lebih banyak ruang. Pada iMac yang saya beli pada tahun 2017, ketika membuka file XAVC HS, saya hanya dapat melihat satu frame, atau terkadang frame berikutnya baru muncul setelah 30 detik. Saya tidak sedang melebih-lebihkan. Format semacam itu dapat menghabiskan banyak sumber daya dan membutuhkan komputer berspesifikasi mumpuni untuk kerja pascaproduksi.
Huruf “I” pada XAVC S-I berarti “All Intra”, dan “Intra” merujuk pada kompresi intra-frame. Ini adalah fitur baru kamera konsumen Sony. Biasanya, kamera “enggan” menggunakan frame baru untuk subjek yang tampak tidak bergerak dalam gambar, seperti langit dan awan. Pada dasarnya, saat bertemu objek diam, kamera seakan beristirahat. Akan tetapi, kamera All Intra dengan cakapnya merekam semua gambar dan tidak pernah enggan bekerja. Kecepatan data rata-rata perekaman 4K 60P dalam format 4:2:2 pada 10 bit adalah 600 Mbps. Angka ini tiga kali lebih cepat daripada XAVC S/HS dengan spesifikasi yang sama. Itulah sebabnya komputer saya tidak mampu memprosesnya.
Ketika Alpha 7S III digunakan untuk perekaman 4K 60P dalam format 16:9, oversampling dilakukan dari 10 megapiksel dan 90% dipotong dari gambar-gambar yang diambil oleh sensor gambar. Jadi, karena Alpha 6600 dengan sensor 24 MP memiliki fitur oversampling 6K hingga 4K, saya bertanya kepada Sony kenapa ia mengatakan bahwa Alpha 7S III menawarkan kualitas gambar 4K terbaik. Sony mengatakan bahwa kualitas gambar tidak hanya bergantung pada resolusi. Di antara beragam kamera konsumen, Alpha 7S III memiliki rentang dinamis, chroma subsampling, dan kedalaman warna yang tidak terkalahkan.
Video dalam beragam format: dua video di sebelah kiri menggunakan format H.265,dua di tengah adalah format XAVC S, dan dua di kanan adalah video XAVC S-I.
Sejujurnya, saya tidak bisa melihat bedanya, bahkan jika keenam video itu tidak diposting di YouTube sekalipun. Saya tidak bisa membedakannya saat video ini ada di komputer. Dengan kata lain, jika saya menghapus semua keterangan yang ada dan menata ulang urutan video, saya tidak akan dapat membedakannya. Bagaimana dengan Anda?
Sony pertama kali menggunakan AF mata/wajah pada model Alpha 7R II. Sejak saat itu, Sony menjadi yang paling unggul di industri kamera untuk urusan kemampuan pengenalan wajah/mata.
Dulu, kita mengambil foto dalam mode AF-C untuk menilai kemampuan fokus sebuah kamera. Namun, Sony menegaskan bahwa Alpha 7S III menawarkan kemampuan fokus yang sama kuatnya untuk semua mode atau format, baik untuk keperluan pengambilan foto maupun perekaman video.
Anda mungkin bertanya-tanya kenapa format video dapat memengaruhi kemampuan fokus. Jawabannya, sumber daya yang digunakan prosesor kamera terbatas. Sebelumnya, makin tinggi kualitas video dan tingkat kecepatan per frame yang dipilih, makin besar pula beban kerja prosesor gambar, dan kemampuan prosesor untuk mengatur fokus bisa jadi terpengaruh.
Sebagai contoh, saat merekam video dengan tingkat kecepatan per frame yang tinggi (seperti 180 fps atau 240 fps, atau bahkan 120 fps), beberapa kamera mungkin kehilangan kemampuan fokusnya. Sebagai contoh, saat sebuah model kompetitor merekam video Full HD 180p, fokus otomatis akan berganti ke fokus manual. Dalam skenario penerapan yang serupa, kecepatan fokus beberapa kamera mungkin menurun.
Inilah alasan Sony mengeklaim bahwa Alpha 7S III memiliki kemampuan fokus yang sama di semua format, yang dapat diartikan bahwa “kemampuan prosesor gambar [kamera Sony] meningkat tajam”. Alpha 7S III menggunakan mesin pemroses gambar BIONZ XR baru yang memiliki level performa hingga delapan kali lebih dahsyat dari prosesor pendahulunya. Kesimpulannya, kamera yang satu ini dapat dengan baik mengambil video HFR yang membutuhkan AF dan pengenalan wajah.
Sekarang saya ingin membicarakan satu hal lagi. Sony pertama kali menggunakan “Real-time Eye AF System” pada Alpha 6400 yang diluncurkan pada tahun 2019. Kala itu, fungsi Eye/Face AF pada Alpha 6400 hanya tersedia untuk pengambilan foto, dan tidak didukung untuk perekaman video. Eye/Face AF untuk video baru tersedia saat RX100 Mark VII diluncurkan pada tahun yang sama. Sejak saat itu, model-model yang diproduksi memiliki fitur ini.
Berikut adalah perbandingan dua video. Yang kiri adalah video 4K 60P yang diambil dengan Alpha 7S III dalam mode XAVC S-I (4:2:2 10bit) dengan kecepatan bit tertinggi 600 Mbps, sementara yang kanan adalah video 4K 120P. Jika kedua mode bisa digunakan dengan AF wajah/mata, penggunaan format atau tingkat kecepatan per frame lainnya tentu tidak akan menjadi masalah.
4K 60P
4K 120P
Kedua video tersebut didapatkan dengan perekaman eksternal layar Alpha 7S III via HDMI, dan dalam waktu yang sama Alpha 7S III juga melakukan perekaman. Anda dapat dengan jelas melihat frame dengan indikator merah ”recording” di layar.
Untuk fokus video, saya menggunakan kecepatan fokus 7 dan sensitivitas 5, yang merupakan kecepatan AF tertinggi. Seperti biasa, kami meminta model membalikkan badan untuk menginterupsi sistem fokus. Akan tetapi, ini bukan masalah bagi Alpha 7S III. Tidak ada penundaan atau pengulangan fokus. Kamera bekerja dengan sangat baik dan menawarkan performa ideal. Ini sangat menakjubkan.
Video di atas diambil pada pukul 16.30 di lingkungan dengan cahaya matahari yang terhalang, tetapi dengan kecerahan keseluruhan yang tidak buruk. Video berikut ini diambil di lingkungan yang gelap pada malam hari di Treasure Hill, yang kala itu sedang menggelar festival cahaya. Lokasi pengambilan yang dipilih berada jauh dari festival untuk menguji apakah kemampuan fokus ALPHA 7S III di kegelapan setara dengan kemampuannya di kala matahari masih bersinar.
Saat mengambil video ini, kecepatan fokusnya berbeda dari kecepatan di siang atau pagi hari. Kami menggunakan kecepatan fokus default, yaitu 5, dan sensitivitas 3 untuk mendapatkan kecepatan fokus yang bagus.
Video dengan spesifikasi F2.8 1/50s ISO 20000 pasti terlalu gelap bukan? Namun, tempat segelap itu tetap tidak menjadi alasan bagi sistem fokus untuk tidak mengenali wajah dan mata model.
Apakah Anda menyadari bahwa noise pada gambar tampak bervariasi? Ini akan kami ulas dalam pembahasan sensitivitas ISO kamera. Akan tetapi, saya ingin memberi tahu Anda bahwa Alpha 7S III memiliki fitur tersembunyi di sini. Petunjuknya adalah: sensitivitas yang ditampilkan di kanan bawah berubah saat noise muncul dan menghilang. Tonton ulang videonya setelah kami membahas sensitivitas ISO kamera.
Kami sudah mengulas kecepatan fokus kamera untuk wajah manusia dan menguji kemampuannya untuk mengenali wajah sembari menggunakan kemampuan fokusnya untuk keseluruhan layar. Secara teoretis, AF wajah manusia seharusnya menggunakan sebagian besar sumber daya prosesor. Sekarang, mari kita bicarakan kecepatan fokus Alpha 7S III saat menggunakan titik fokus tunggal:
Kecepatan fokus kamera
Kecepatan fokus video
Kecepatan fokus Alpha 7S III selama pengambilan foto merupakan salah satu yang tercepat, tetapi menurut saya itu bukanlah poin unggulannya. Poin unggulannya adalah kecepatan fokusnya untuk objek. Dalam video ini, saya mencoba beragam kecepatan fokus dan sensitivitas. Anda dapat menemukan detail selengkapnya di bab selanjutnya.
Saat mengambil foto, banyak kamera memungkinkan penggunanya menyesuaikan sensitivitas fokus, yang sangat penting untuk memotret subjek yang bergerak. Dengan menyesuaikan sensitivitas dan fokus, Anda dapat menentukan apakah sistem fokus harus mengabaikan subjek yang mendadak muncul atau segera beralih ke subjek yang tiba-tiba muncul tersebut. Untuk pengambilan foto, penentuan fokus yang cepat biasanya dibutuhkan. Oleh karena itu, Alpha 7S III memiliki dua opsi di setelan fokus:
Kecepatan transisi AF adalah “lama waktu” dari awal upaya pemfokusan hingga berhasilnya upaya tersebut, dan Sensitivitas Pergeseran Subjek AF adalah “waktu respons” yang dibutuhkan kamera untuk beralih fokus dari subjek lama ke subjek baru. Parameter pertama adalah durasi pemfokusan, sementara yang kedua adalah waktu respons kamera untuk memulai pemfokusan.
Mari kita cermati setelan berikut ini: kecepatan fokus 5 dan sensitivitas 3
Alpha 7S III memiliki tujuh level kecepatan transisi AF yang dapat dipilih untuk perekaman video dan level defaultnya adalah 5. Kamera ini memiliki lima level sensitivitas dan level defaultnya adalah 5. Video ini diambil dengan sensitivitas level 3.
Seperti yang dapat Anda lihat di video di atas, saat saya memindahkan titik fokus tengah ke posisi baru, ada sedikit penundaan pada gambar. Ini adalah hasil dari penyesuaian sensitivitas ke 3 (level moderat), dan kecepatan fokus yang juga moderat.
Mari kita coba setelan lain: sensitivitas tetap dan kecepatan fokus diubah menjadi 1.
Kecepatan fokus menjadi sangat rendah. Setelah fokus dipindahkan ke suatu titik tetap, kamera membutuhkan lima hingga enam detik untuk sepenuhnya fokus. Ini adalah setelan fokus paling mulus untuk Alpha 7S III. Untuk pengambilan foto, kecepatan seperti ini terlalu lambat, tetapi untuk perekaman video, beragam kecepatan fokus adalah alat bantu penceritaan.
Perlu diperhatikan bahwa saya menggunakan fungsi Touch Focus untuk mengambil video ini. Jika menggunakan fungsi Touch Focus, tindakan sentuh Anda akan menimpa semua setelan sensitivitas. Artinya, meskipun sensitivitas sudah ditentukan sebagai rendah atau tinggi, sensitivitas akan menjadi “segera”. Sistem akan segera memulai pemfokusan setelah jari Anda menyentuh layar, tetapi kecepatannya akan tetap sesuai dengan kecepatan yang sudah dipilih di menu.
Mari lihat hasil dari penggunaan setelan ekstrem ini tadi: kecepatan fokus tertinggi, tetapi dengan sensitivitas terendah:
Saya rasa sebagian pengguna tidak akan memilih setelan ini. Setelah layar dipindahkan ke suatu titik tetap, kamera membutuhkan beberapa saat sebelum memulai pemfokusan, tetapi kecepatan fokusnya sangat tinggi. Prosesnya tampak seperti seseorang yang melakukan sesuatu dengan perlahan, tetapi kemudian mulai bergerak secara tiba-tiba.
Untuk perekaman video, fokus dan kecepatan respons kamera dapat disesuaikan, dan ini merupakan fitur yang jarang dimiliki kamera digital konsumen. Kreator film dapat menggunakan beragam kombinasi dari kedua parameter tersebut dalam penyajian ceritanya.
Saat Sony Alpha 7S diluncurkan, noise rendah pada level ISO ultratinggi menjadi daya tarik utama karena waktu itu tidak ada banyak kamera yang dengan sengaja mengurangi resolusi gambar demi mendapatkan noise yang rendah pada ISO tinggi. Untuk Sony Alpha 7S II, perekaman video 4K adalah daya tarik utamanya, sedangkan untuk Alpha 7S III, sepertinya ISO ultratinggi sudah tidak lagi menjadi daya tarik utama. Bagaimana menurut Anda?
Video berikut ini diambil ketika saya menginap di U.I.J Hotel & Hostel di Tainan. Setelah pukul 23.00, lampu-lampu di teras lantai tiga dimatikan sehingga menciptakan suasana ultragelap. Itu adalah momen yang sempurna untuk menguji performa kamera pada level ISO tinggi. Saya menggunakan lensa 24–70 mm F2.8 dan aperturnya tidak begitu besar. Oleh karena itu gambarnya gelap saat level ISO rendah, kecerahan –0.7EV tidak dapat dicapai sebelum level ISO menyentuh 6400. Di level ISO yang lebih tinggi, saya menyesuaikan apertur untuk menjaga agar pencahayaan tetap sama.
Video ini diambil tanpa menggunakan Profil Gambar. Pada ISO 3200 atau di bawahnya, kualitas video tidak memuaskan. Pada ISO 6400 atau lebih tinggi, peredam noise bekerja dengan sangat baik. Pada ISO 12800, gambar video sangat bersih. Saat menyadari adanya noise, saya sudah berada pada ISO 51200. Peredaman noise Alpha 7S III pada level ISO tinggi sangat mengesankan. Anda dapat mengatur level ISO setinggi mungkin tanpa masalah.
Biasanya, pengguna awam tidak akan menaruh minat pada setelan Profil Gambar di menu Sony. Manfaat fitur ini sangat banyak, tetapi dampaknya baru bisa terlihat pada proses pascaproduksi. Ia kerap digunakan oleh pengguna-pengguna tingkat lanjut, terutama mereka yang terobsesi dengan perekaman.
Jadi, apa itu Profil Gambar? Profil ini ditentukan sebelum file video dibuat. Setiap profil gambar memiliki metode perekaman tersendiri dalam menampilkan gambar. Secara default, kamera ini tidak menggunakan profil apa pun, yang artinya gambar direkam secara linear. Hasilnya, cahaya pada bagian yang terang dapat dengan mudah bertambah cerah dan bagian yang gelap cenderung sangat gelap. Alpha 7S III juga dapat digunakan dengan profil gambar Log, yang dapat dengan efektif meningkatkan rentang dinamis kecerahan dan kegelapan. Jika rentang dinamis ditingkatkan, warna yang dapat dimunculkan pasti berbeda. Profil gambar menggabungkan dua hal: yang pertama adalah sesuatu yang dikenal dengan “kurva gamma”, dan yang satu lagi disebut “gamut”. Kurva gamma berhubungan dengan kecerahan dan kegelapan, sementara gamut berhubungan dengan rentang warna.
Alpha 7S III tidak menggunakan log gambar, tetapi menawarkan total 10 profil gambar. Profil gambar tersebut ditunjukkan sebagai berikut:
Profil gambar memiliki dua faktor utama: performa kecerahan dan kegelapan, seperti rentang dinamis, dan performa warna. Jadi, Anda dapat membandingkan perbedaan dari warna-warna di dalam gambar, detail langit dan North Gate, dan bayangan di dalam North Gate.
Orang-orang di Sony menyarankan agar saya menggunakan S-Log3 (PP8/PP9) untuk pengambilan gambar karena itu dapat memberikan lebih dari 15 stop rentang dinamis. Perhatikan bahwa 15+EV yang digambarkan Sony dalam iklannya hanya dapat dicapai dalam kondisi S-Log3. Performa itu mustahil dicapai jika profil gambar S-Log3 dimatikan.
Saya ingin menekankan bahwa, jika sudah pernah mencoba S-Log, Anda mungkin akan merasa bahwa ada banyak noise pada gambar, dan Anda mungkin juga akan menyadari bahwa sensitivitasnya sangat tinggi. Sebagai contoh, pada profil gambar S-Log2 Alpha 7S II, titik mula sensitivitas adalah ISO 1600, yang berarti bahwa jika pengambilan gambar dilakukan pada pagi atau siang hari, filter densitas netral harus ditambahkan. Untuk profil gambar S-Log3 Alpha 7S III, titik mula sensitivitas adalah ISO 640, dan levelnya bisa diturunkan hingga ISO 160. Dengan kata lain, jika tidak menggunakan filter densitas netral, Anda juga dapat menggunakan ISO 160.
Sensitivitas terendah berdasarkan kurva S-Log:
| Camera | Kamera Sensitivitas terendah dalam mode S-Log |
| Alpha 7S II | 1600 |
| Alpha 7 III | 800 |
| Alpha 7R IV | 500 |
| Alpha 7S III | 160 (diturunkan dari ISO 640) |
Pada kenyataannya, banyak orang jarang menggunakan S-Log3, karena dampak dari keunggulannya baru tampak pada tahap pascaproduksi. Perlu saya tegaskan kembali bahwa lebih dari 15 stop rentang dinamis yang diiklankan oleh Sony hanya dapat diraih menggunakan S-Log3. Saya akan menunjukkan kepada Anda perbedaan dari video yang diambil dengan profil gambar S-Log3 dan yang tidak (setelan yang dipilih kebanyakan orang).
S-Log 3
Tidak ada profil foto
S-Log 3
Tidak ada profil foto
Cermati perbedaan yang ada pada bagian terang dan gelap. Pada video tanpa profil gambar, bagian yang terang terlalu cerah, sementara pada video dengan S-Log3, detail yang ada ditampilkan dengan sempurna.
S-Log 3
Tidak ada profil foto
S-Log 3
Tidak ada profil foto
Kemampuan untuk menjaga detail pada setelan gelap juga merupakan keunggulan S-Log3.
S-Log 3
Tidak ada profil foto
Sekarang, saya ingin menunjukkan kepada Anda keunggulan S-Log3 lewat dua video yang sudah diedit: video pemandangan dan video potret, keduanya menggunakan kurva gamma S-Log3 dan Look Up Table (LUT). Kurva gamma dan S-Gamut3. Cine S-Log3 dikonversi menjadi ITU.709, yang dapat ditampilkan pada layar biasa. Anda akan melihat bahwa warna menjadi normal, dan detail bagian terang dan gelap juga dapat terjaga seutuhnya.
Saya yakin bahwa banyak konsumen membeli Alpha 7S III karena kamera itu mampu merekam video 4K pada kecepatan 120 frame per detik. Saat ini, kebanyakan kamera di pasaran dapat merekam video 4K, tetapi untuk mengambil gambar beresolusi tinggi, pengguna harus memilih Full HD, dengan kecepatan 120, 180, 240 FPS, atau menggunakan kalkulasi gambar untuk menyimulasikan 4K 120P dari 4K 60P. Akan tetapi, jika Anda ingin benar-benar mengambil video 4K 120P, hanya ada sedikit kamera di pasaran yang sanggup melakukannya. Bahkan ada banyak kamera profesional yang tidak dapat melakukannya.
Untuk video 4K 120P Alpha 7S III, Kodek yang dapat digunakan hanyalah H.264, dan format XAVC S harus dipilih. Namun, masih ada dua opsi: 4:2:0 8bit (200 Mbps) dan 4:2:2 10bit (280 Mbps). Untuk 4K 120P, 4:2:2 10 bit cukup jarang digunakan.
Saat merekam video 4K 120P, Alpha 7S III tidak menggunakan mode S&Q. Oleh karena itu, kamera dapat merekam suara sambil mengambil gambar, dan kecepatan pemutarannya juga 120 fps. Untuk ketiga video berikut ini, saya meminta editor untuk mengurangi kecepatan pemutaran sebanyak 0,2x dan menurunkan kecepatan video ke 24 fps. Ini adalah kecepatan normal jika tidak ada penyesuaian yang dilakukan pada proses pascaproduksi.
Menunya luar biasa dan nyaman digunakan!
Saya bahkan menantang seorang teman untuk mematikan semua fungsi suara di kamera Sony miliknya (Alpha 7R IV) dalam satu menit, termasuk suara rana, suara fokus, pemutaran volume video, dan nada peringatan untuk timer hitung mundur. Saya ingin mengetahui lama waktu yang dia butuhkan (dulu, setelan untuk suara-suara ini tersebar di berbagai menu).
Saya tidak puas dengan menu lama Sony. Saya selalu dibuat kesal setiap kali mengakses menu kamera Sony. Penataan menu tidak dilakukan dengan logis. Sebagai contoh, di kepala saya sering muncul beragam pertanyaan, seperti “di mana letak setelan perekaman?”, “Apakah setelan HDR ada di halaman pertama, kelima, atau ketujuh?”, atau “Apakah setelan pintasan dimaksudkan untuk pengambilan gambar atau perekaman video?”. Saat menguji Alpha 9 II, saya hampir kehilangan kontrol emosi ketika mencoba memasukkan alamat IP karena layarnya tidak mendukung kontrol sentuhan. Sony menerapkan beberapa perubahan kecil, tetapi itu sama sekali tidak membantu! Seseorang pernah berkata kepada saya bahwa membuat pintasan dapat membantu saya menemukan suatu fungsi dengan mudah. Rasa-rasanya saya ingin menjawab, “siapa yang membutuhkan pintasan?!” Untuk ukuran kamera 61MP dengan latitude ultratinggi dan kemurnian ISO tinggi yang mampu secara kontinu mengambil 1.000 gambar, menu kamera ini sangat tidak ramah pengguna. Sony seharusnya mengoptimalkan antarmuka penggunanya terlebih dahulu!
Untungnya, Alpha 7S III kini punya menu yang benar-benar baru! Kategori dan subkategori menu yang dulu susah dipahami kini didesain ulang dengan pola dan warna yang berbeda serta teks pendukung. Setelan berjenjang menjadikan ratusan menu mudah dipahami. Selain itu, kontrol sentuhan sudah ditambahkan, dan menu dapat diakses dengan usapan. Saya tidak akan memuji Sony atas perubahan ini karena ini seharusnya sudah ia lakukan sejak dulu! Akan tetapi, setidaknya kini Alpha 7S III memiliki menu yang memudahkan saya menemukan setelan fungsi. Hasil akhirnya memang belum sempurna, tetapi dampaknya sungguh terasa. Jika Anda adalah tipe pengguna yang sering kesal karena sulit menemukan suatu setelan fungsi, menu Alpha 7S III akan menjadi penyelamat bagi Anda. Logika menu Sony tidak lagi menjadi masalah bagi saya.
EVF super yang menyerupai layar komputer
Menurut saya, hal paling mengesankan kedua yang dapat ditemukan pada kamera ini adalah jendela bidik elektronik definisi tingginya. Anda boleh saja menganggap bahwa EVF 3,68 juta dot sudah cukup bagus dan EVF 5,76 juta dot sangat bagus, tetapi setelah menyaksikan langsung 9,44 juta dot, pikiran Anda pasti akan melayang saking terpesonanya. Jendela bidik dengan resolusi 2048x1536 ini tak ubahnya layar komputer.
Saya rasa perbesaran finder-nya yang mencapai 0,9x tidak begitu tampak jelas. Anda mungkin akan merasa bahwa gambarnya sedikit lebih besar, tetapi kehalusan gambarnya sangat berbeda. Setiap kali mengalihkan pandangan dari layar ke jendela bidik elektronik, Anda pasti akan merasa terkesan dan berkata, “Wow, detailnya sungguh menakjubkan!”
● Keandalan lebih penting dari spesifikasi tinggi
Setelah menunggu selama lima tahun, kami mengira bahwa Sony Alpha 7S III akan melampaui resolusi 4K dan melompat ke setidaknya 5K atau bahkan 6K. Ternyata, Sony lebih memilih untuk menggunakan strategi yang tidak radikal. Berdasarkan masukan dari banyak pengguna, Sony menyimpulkan bahwa permintaan dari “sebagian besar konsumen adalah perangkat perekaman video 4K”. Sony tidak hanya mengejar resolusi yang tinggi, tetapi juga berniat mencapai kualitas gambar 4K terbaik. Alpha 7S III mampu menjalankan perekaman 4K/60P dengan kedalaman 10-bit dan pengambilan sampel warna 4:2:2 saat menggunakan baik kompresi Long GOP maupun All Intra. Pada mode S-Log3, kamera ini menawarkan 15 stop rentang dinamis. Tujuan akhirnya adalah memberikan kualitas 4K terbaik kepada para kreator film. Saya rasa strategi Sony ini patut diacungi jempol.
▲Dengan ditambahkannya indikator perekaman yang baru, titik merah yang tadinya ada di pojok kiri bawah layar kini digantikan oleh bingkai merah. Indikator perekaman yang terpampang dengan sangat jelas ini mencegah pengguna lupa menekan tombok perekaman video.
Pengoptimalan fungsi orisinal saja tidaklah cukup. Operabilitas tombol Alpha 7S III sudah diperbarui hingga mencapai level yang setara dengan Alpha 7R IV. Semua tombol diperdalam, sebuah joystick mini ditambahkan, dan tombol pengambilan video terpisah yang tampil sangat mencolok telah ditambahkan ke bagian atas kamera, HDMI Type A kini didukung, baterai litium seri Z disediakan, logika menu telah ditingkatkan secara signifikan, dan indikator perekaman video ditambahkan untuk membuat perekaman lebih jelas. Kamera ini juga memiliki AF andal untuk pengambilan gambar dan perekaman video. Alpha 7S III mungkin memang bukan yang pertama yang menghadirkan fitur-fitur di atas, dan sebagian besar dari fitur-fitur itu adalah perubahan yang dibuat Sony berdasarkan pengalaman konsumen seri Alpha 7/Alpha 9 selama lima tahun belakangan ini. Akan tetapi, kombinasi dari semua detail kecil pada seri Alpha 7 ini menawarkan operabilitas terbaik sekaligus melahirkan keandalan dan kemudahan pengoperasian yang tidak terpampang di lembar spesifikasi.
Jika Anda tidak mendambakan pengambilan gambar atau perekaman video 5K/6K/8K, jika anggaran Anda terbatas dan tidak mencukupi untuk sebuah kamera film profesional, atau jika Anda lebih memilih gaya memotret yang lincah dan cepat ketimbang memotret dengan beragam alat yang rumit, Alpha 7S III adalah pilihan terbaik (jika Anda tidak terlalu mahir mengatur fokus, AF matanya akan banyak membantu Anda). Saya rasa, performa Alpha 7S III sebanding dengan harganya. Kalau memang belum yakin, cobalah menyewa satu unit dan rasakan sendiri kedahsyatannya! Kamera satu ini jelas sangat berbeda dari Alpha 7S II. Setelah terbiasa menggunakannya, Anda pasti akan terpesona oleh kemampuannya.
Fitur unggulan Sony Alpha 7S III:
Yang dapat ditingkatkan pada Sony Alpha 7S III:
Video di atas diambil pada resolusi 4K 120P.
--------------------- Special thanks ---------------------
The night-time photographs of people were all taken at Treasure Hill. An exhibition is being held during the “Treasure Hill Light Festival”. Featuring the concept of “symbiosis” as a starting point, it gathers works from well-known artists. Many of the works are installations relating to light. Visitors are welcome.
Like us on Facebook
Subscribe on YouTube
Follow us on Instagram